Sunday, December 15, 2019

Mengamuknya Jin Islam di Keresek (Bagian 17)


Oleh: HASBA
Agar jin tersebut tidak makin nekad, makin berani dengan bahasa vulgar. Saya tidak ingin, dia merasa diberi harapan. Setelah ajakan untuk mengawininya. Detik itu juga, saya langsung menulis jawaban menolak kemauan si jin. Penolakan itu saya tulis dengan bahasa yang luga dan tegas. Tidak memakai bahasa diplomasi, “Tidak sudi, saya tidak sudi menikah dengan jin sebangsa kamu. Di dunia manusia juga masih banyak pilihan!” Surat tersebut, dalam sekejap langsung lenyap tak berbekas dari tempatnya. Berarti sudah diambil sama jin itu.
Setelah surat penolakan itu hilang, saya merasa kecut juga. Mengingat bahasa yang digunakan takutnya kasar. Menyinggung perasaan si jin itu. Rasa khawatir dan was-was menyelinap. Saya menyadari emosi belum bisa dikendalikan sepenuhnya. Belum bisa diplomatis tidak bisa menahan amarah atas lamaran jin itu. Penyesalan itu terjadi karena terlalu tergesa-gesa menuliskan surat balasan. Apa tidak sebaiknya surat balasan itu, menggunakan bahasa yang halus? Sehingga tidak menyinggung perasaan jin itu? Bagaimana kalau dia marah?
Saya jadi teringat wawacan Purnama Alam yang pernah dibacakan oleh orangtua saya, menceritakan sewaktu Purnama Alam menolak lamaran Rohong Guring. Rohong Guring marah kemudian mengutuk Purnama Alam menjadi batu di dalam gua si Bungbung Sumur. Jangan-jangan saya akan mengalami apa yang dialami oleh Purnama Alam. Mungkin bisa selamat dari sabetan goloknya, tapi jadi gila atau jadi batu karena kutukan jin yang sakti itu. Tidak mustahil Siti Kolbuniyah mempunyai kemampuan seperti itu atau kejahatan dan dendamnya sampai ke sana. Mungkin saja. Bisa saja, jin itu menurutkan kata hatinya, seperti yang digambarkan dalam tembang Durma pada awal cerita ini.
Munculnya kekhawatiran dan ras was-was yang kembali menyeruak, menjadikan saya makin rajin tahajud. Mendatangi dan mengirim doa kepada almarhum Ayahanda makin sering dilakukan. Saya, berserah diri sepenuhnya kepada Yang Maha Suci. Lahaola wala quwwata…. Saya memperbanyak membaca istigfar, agar keimanan dan keyakinan saya kembali seperti semula. Tidak ada rasa takut secuilpun kepada jin itu. Saya percaya, Allah tidak akan menghukum seorang hambanya dengan sembarang hukuman akibat perbuatan yang tidak di sengaja.
Setelah beristigfar, diri saya kembali seperti dikembalikan dalam keadaan semula. Kesadaran saya kembali pulih, bahkan menyalahkan diri sendiri. Kenapa harus kembali takut oleh jin? Jangan! kamu jangan takut oleh jin itu. Makin takut kamu kepada mereka, maka mereka akan makin berani berbuat yang tidak-tidak. Segera, kamu harus bangkit dan jangan takut! Bila kamu berani, maka jin itu pasti takut kepada kamu. Begitulah hati saya berbisik kepada diri saya sendiri.
Pulihnya kesadaran diri akan Maha Tingginya yang Maha Suci, menjadikan hati dan jiwa saya seperti disiram dengan air dingin. Terasa damai dan sejuk tiada tara. Allahu Akbar, terima kasih, ya Allah, sudah mengembalikan saya ke dalam jiwa yang penuh dengan kedamaian dan kepasrahan sepenuhnya kepada-Mu. Saya bersimpuh, bersujud panjang dalam doa dan rasa syukur serta permohonan ampun.
Baru terbangun dari sujud setelah saya merasakan ada secarik kertas yang tiba-tiba muncul di depan saya. Sepertinya surat itu diletakkan dengan penuh hati-hati oleh jin Siti Kolbuniyah. Sebelum membaca isi surat yang ditulis dengan pensil merah itu. Hati saya sudah ketar-ketir dengan jantung yang berdegup kencang. Khawatir dengan kemungkinan isi surat, deg-degan ingin segera mengetahui isinya. Jangan-jangan isinya. Kembali memberikan ancaman yang lebih mengerikan.
Tangan dan jemari tangan saya gemetar, jantung berdegup kencang tidak henti. Persis pengalaman dahulu bila menerima surat dari kekasih hati saat kita saling berkirim surat. Gemetaran dan deg-degan karena dibarengi dengan asmara karena isinya pasti kabar gembira penuh canda dan tawa. Tapi, surat ini yang membuat saya bergetar dan jantung berdegup kencang karena dibarengi rasa khawatir akan dendam kesumat pengirim surat.
Saat dibaca, Alhamdulillah isi surat tersebut langsung membuat hati ini tenang dan sejuk. Isinya, “ Ustadz mohon jangan marah kepada Ana, sampai Ana ditolak mentah-mentah dan disumpah serapahi. Ana sangat betah di pesantren ini. Ana, mohon Ustadz tidak mengusir Ana dari sini. Mohon Ana jangan dimusuhi. Dan…. jujur saja Ana katakan, Ana sangat menyukai Ustadz. Menyukai perilaku keimanan Ustadz yang sangat tinggi kepada Sang Maha Pencipta dan bakti serta kasih Ustadz kepada Ayahanda Ustadz. Mulai detik ini, saya tidak akan lagi menggoda dan menjahili Ustadz sekeluarga. Tapi mohon, jangan usir lagi Ana dari pesantren ini. Ana betah di sini, Ustadz!”
Perasaan dan jiwa saya, langsung serasa melayang. Tak henti mengucap takbir, Alhamdulillah kepada yang Maha Suci. Allah yang menggerakan dan membolak-balikan semua makhluk-Nya di seluruh permukaan bumi. Tanpa izin dan kehendak-NYa apapun tidak bisa terjadi. Tidak mungkin Siti Kolbuniyah, menulis soleh dengan bahasa yang halus dan berserah diri tanpa kehendak dan izin dari Allah SWT. Tanpa izin dan kehendak Allah, tidak mungkin Siti Kolbuniyah menulis surat yang isinya begitu damai.
Benar saja, setelah saya menerima surat itu. Berbagai gangguan dan kejahilan jin itu kepada diri saya pribadi sementara waktu hilang. Tetapi, gangguan dan kejahilannya terhadap rumah, kobong santri dan di masjid masih terjadi. Mungkin karena jin itu bakatnya seperti itu. Seperti dalam pepatah, sebaik-baiknya jin, sama dengan sebandel-bandelnya manusia. Di bawah bantal tidak lagi ditemukan surat atau catatan dari Siti Kolbuniyah. Beberapa waktu kemudian, tiba-tiba suatu pagi di bawah bantal saya kembali ditemukan secarik kertas yang pasti dari Siti Kolbuniyah. Apa isi surat itu? (BERSAMBUNG)
DESSULAEMAN

Mengamuknya Jin Islam di Keresek (Bagian 15)

Oleh : HASBA
Sudah pernah diceritakan, kalau saya hampir menemui ajal, hampir meregang nyawa saat sebuah golok menyambar ke arah leher saya. Gangguan demi gangguan masih banyak lagi, tidak bisa diceritakan semua. Karena, akan membuat bosan para pembaca. Misalnya, ada yang pernah ditelanjangi tengah malam atau siang, ada yang ditarik dan disembunyikan selimutnya kemudian ditelanjani, sehingga pada waktu bangun kedinginan, selimut dan baju yang terbang di atas pemiliknya, ada yang kedua lengannya dimasukan ke dalam lobang lengan bajunya sehingga kedua lengannya tidak bisa bergerak. Ada juga yang dimasukkan ke dalam karung, kemudian lobang karunya dijahit seperti mengarungi beras. Santri yang sedang berdzikir, tasbihnya ditarik, Ada yang sedang bersujud, tubuhnya digulingkan sampai tak berkutik, atau ada juga santri sedang sujud tikarnya ditarik sehingga jadi tersungkur.
Yang belum diceritakan adalah banyaknya surat-surat dari jin yang bernama Siti Kolbuniyaah itu. Menulis suratnya di secarik kertas, dengan pensil merah. Pada awal mulanya surat tersebut, tulisannya bukan Bahasa Arab, entah bahasa atau tulisan apa yang dipakainya. Entah mungkin bahasa atau huruf di negeri Habsyi. Tulisannya curat-coret tidak bisa dimengerti, dengan ukuran hurup melebihi ukuran hurup di kita. Hanya, terpikir saja kalau carikan kertas dengan tulisan merah itu adalah sebuah surat. Jin itu menyimpan yang saya pikir surat itu di bawah bantal yang biasa saya gunakan untuk tidur atau di sarung bantal kecil untuk menancapkan jarum. Kadang-kadang malah, sarung bantal itu sendiri yang dijadikan korban, ditulisi dengan hurup dan bahasa “Alien” tersebut. Menjadikan sarung bantal jadi sangat kotor. Apa yang dituliskan, sama sekali tidak bisa ditangkap maknanya. Sehingga, semua carikan-carikan tersebut saya bakar. Di kemudian hari saya merasa menyesal, karena surat-surat tersebut bisa dijadikan bukti untuk penulisan kisah nyata ini. Surat-surat tersebut bisa dijadikan bukti otentik, adanya tulisan jin Siti Kolbuniyyah. Mungkin bisa dijadiakn bahan penelitian di chanel History dalam acara Ancient Alient, membuktikan keberadaan mahluk halus.
Diakibatkan surat-suratnya sering dibakar, ternyata pengganti kertas adalah sarung-sarung bantal. Mungkin agar, tidak dibakar atau maksudnya ingin agar tulisannya dijadikan perhatian dan dibaca oleh saya. Saya mengerti apa yang tertulis di carikan-carikan kertas itu bukan sekedar tulisan. Tapi, tulisan yang mengandung arti atau surat. Karena begitu seringnya tulisan tersebut muncul di berbagai tempat. Dugaan awal saya, mungkin jin itu mengajak berkomunikasi langsung. Mengajak berdamai atau ada yang ingin disampaikan jin itu kepada saya. Karena kesal, dengan kotornya sarung bantal yang selalu dicoreti jin itu, sehingga harus mencucinya berulang-ulang.
Akhirnya, saya menuliskan beberapa kalimat. Siapa tahu jin itu membalasnya. Kalimat yang saya tulis: “ Kalau curat-coret kamu di kertas yang dibakar adalah benar sebuah surat yang ditujukan kepada saya. Saya minta, kamu menulis dalam huruf latin atau hurup yang bisa dibaca oleh saya, manusia. Serta bahasa yang dipakai harus bahasa Sunda, karena saya adalah manusia Sunda!” Tidak sampai sepersekian detik, Entah darimana datangnya, Muncul sebuah jawaban di secarik kertas dengan tulisan pensil merah dengan memakai aksara Latin dalama bahasa Sunda. Tapi, ya ampuuun. Bahasa yang digunakan, bahasa kasar dan berbau porno. Malahan, makin ke sini, bahasa yang digunakan sangat jorok dan kotor. Mungkin dia merasa sudah sangat akrab. Bagaimana isi surat-surat tersebut, nanti di belakang diceritakan. Sekarang kita tunda dulu. Saya akan ceritakan, bagaimana upaya selanjutnya saya untuk mengusir jin tersebut, Kotak surat aau brievenbus yang dijadik tempat menyimpan surat oleh Nyai Siti Kolbuniyah adalah di bawah bantal saya. Saya biarkan sampai menumpuk berupa carikan-carikan kertas.
Saya selalu bertawakal kepada Allah SWT saking ingin bisa mengusir jin tersebut. Adalah percuma, sekalipun dia menyerah kalah tapi tidak minggat dari rumah saya. Tetap akan membuat berabe dan tidak nyaman dalam rumah saya. Membaca isi suratnya, yang sudah bisa dimengerti karena memakai hurup latin dan bahasa Sunda. Jin itu bercanda sangat keterlaluan. Saya, sudah kehabisan akal, bagaimana caranya menaklukkan dan mengusir jin kebandelan dan kejahilan jin tersebut. Sulitnya, jin itu selalu lebih unggul daripada orang pintar yang akan mengusirnya. Kiai dan Mak Paraji tidak ada yang berdaya. Menyerah karena kesaktian jin tersebut. Akhirnya, saya menyadari. Seharusnya saya hanya berpegang dan berharap kepada Allah SWT bukan kepada sesama mahluk. Secara pribadi saya bertekad akan melawan habis-habisa. Perang total dengan segala kemampuan diri yang ada untuk melawan jin itu sendiri. Tidak akan meminta bantuan kepada orang lain atau orang pintar lagi.
Bukan, karena tidak percaya dengan ilmu orang lain, bukan takabur. Bukan menolak bantuan sukarela dari mereka yang peduli dan menyayangi saya. Bukan karena sudah tidak ada lagi yang ingin membantu mengusir jin itu. Tapi murni ingin berusaha sendiri, dengan kemampuan diri sendiri. Tidak melibatkan orang lain. Karena, awal mula masalah itu muncul diakibatkan oleh saya. Saya sendirilah yang harus menyelesaikannya sendiri.
Entah berapa orang yang ingin membantu untuk mengusir jin tersebut, terpaksa pulang tanpa hasil. Rasa tidak enak di batin saya, menyeruak dengan sendirnya karena orang-orang yang ingin membantu selalu bertemu dengan kegagalan demi kegagalan. Budi baik mereka tidak bisa dibalas oleh saya. Akhirnya, saya memutuskan untuk tawakaltu alallah. Lalu saya membaca lahaola walakuwwata dalam hati, batin berdzikir tanpa henti kepada yang Maha Kuasa. Meminta berkah dari Ayahanda, saking sudah banyaknya tenaga yang ingin membantu tapi selalu mubazir, belum ada yang berhasil.
Saya juga mengerti bahwa apa yang diusahakan belum diridhoi oleh Allah SWT. Sejak hari itu saya tidak pernah lagi mencari orang pintar untuk mengusir jin tersebut, sebab makin saya berusaha mendatangkan orang pintar. Jin tersebut sepertinya mencium apa yang saya lakukan. Jin itu makin menggila, dan melakukan hal-hal yang di luar batas bilsa dia mencium gelagat bahwa saya akan mengusirnya.
Saya bertekad akan berusaha sendiri dengan melakukan tirakat, karena sebelumnya pernah meminta orang pintar, yang sangat tinggi ilmunya. Dia berkata, “Tulis aja anu, do’a anu di atas bata mentah yang belum dibakar. Karena, ingin mengusir jin itu selamanya, walaupun susah mencari bata mentah yang disyaratkan oleh orang pintar tersebut. Namun, akhirnya didapatkan juga dari pabrik bata di Cirapuhan, Limbangan. Bata yang didapat dengan susah payah tersebut, di simpan dengan hati-hati. Bata mentah tersebut saya simpan di lemari pakaian di dalam kamar, lalu dikunci rapat. Khawatir ditemukan oleh anak-anak lalu malah dijadikan mainan. Namun, memasuki waktu magrib tiba, saat matahari tenggelam. Tiba-tiba, “DUAAAR!” Terdengar suara ledakan di depan rumah yang sangat memekakan telinga. Persis suara ledakan granat. Suara ledakan tersebut, sampai rumah saya terasa seperti bergoyang seperti terkena gempa, karena ledakan keras tersebut. Terdengar suara berderak perabotan rumah tangga yang beradu, lampu semua bergoyang. Saya, cepat-cepat berlari ke ruang tamu, dan melihat ke depan rumah. Karena sumber ledakan tersebut terdengar dari depan rumah. Ternyata, saat dilihat dan didekati di halaman rumah. Ternyata tampak hancuran bata mentah, bertebaran dan berserakan di sekitar pusat ledakan. Entah dibagaimanakan, bata mentah tersebut bisa hancur lebur. Bata mentah dari mana dan siapa yang meledakan bata tersebut sehingga saking kerasnya ledakannya sampai rumah terasa sampai bergetar hebat. Saya kembali masuk ke dalam rumah, setengah berlari masuk ke dalam kamar. Membuka kunci lemari, dan memeriksa bata mentah yang disimpan di bawah tumpukan baju. Ternyata, bata mentah yang didapat dengan susah payah tersebut. Telah raib. Di tempat bekas bata tersebut berada, hanya ada secarik kertas yang diparaf S.K. Bata mentah itu hilang, pasti dicuri oleh dia?
Oh, iya ada yang terlupakan sedikit yaitu saya seringkali kehilangan barang atau pakaian, apalagi uang sudah tak terhitung saking seringnya. Bila, di tempat dimana asalnya barang itu berada ada kertas bertuliskan S.K. sudah bisa dipastikan seratus persen barang, pakaian atau uang tersebut hilang karena diambil oleh jin itu. Barang yang hilang, saya lebih suka menyebutnya dicuri, krena diambil tanpa ijin. Dipastikan tidak akan kembali lagi, sudah dipastikan saya harus mengikhlaskan barang, pakaian atau uang yang hilang tersebut.
Harus ikhlas dan ridho, padahal sudah diteror, leher disambar golok tajam dan diganggu melebih batas, akhirnya harus ridho dan ikhlas juga barang atau uang hilang tanpa bekas dicuri jin itu. Malahan yang paling masih terasa sekarang, bau kotorannya yang dibuang di langit-langit rumah saat serangan pertamanya. Tidak ada barang, pakaian atau uang yang bisa lolos dari pencurian jin itu. Disimpan dimanapun pasti ditemukannya dan hilang tanpa bayangan. Dikunci sekuat apapun tetap raib dibawa ke alam gaib. Diganti dengan secarik kertas putih bertuliskan S.K.
Nah, sejak peristiwa ledakan dahsyat akibat bata mentah yang terdengar seperti ledakan granat. Menjadikan diri saya lebih kuat niat, untuk berupaya dan berpuasa lebi giat. Dalam kepedihan, kurang tidur dan kurang makan, karena berpuasa siang setiap hari saya mengaji diri meminta pertolongan kepada Allah.. Bangun malam untuk bertahajud setiap malam, mengharapkan rahmat dan hidayah dari Yang Maha Membolak-balikan hati semua makhluk agar ujian dan cobaan cepat berlalu.
Saya sudah memutuskan dan bertekan, apapun gangguan, kejahilan dan ancaman fisik dari jin tersebut tidak akan dianggap ada. Menurut bahasa anak-anak, mungkin dianggap “garing” karena tidak lucu. Saya berniat untuk berkonfrontasi langsung, melawan dengan upaya sendiri. Tidak meminta atau mengajak orang lain. Begitupun kepada para santri, saya himbau untuk tidak ketakutan bila diganggu atau dijahili oleh jin bengal tersebut.
Kejadian pernah sedang duduk bersila dan berdzikir, tiba-tiba seekor tikus mendekati. Kemudian masuk, ke dalam sarung yang dipakai. Tikus itu merayap di betis, kemudian naik ke paha, sampai mengarah ke selangkangan. Walaupun terasa geli dan jijik serta geregetan, hati saya tetap tidak putus mengingat kepada Allah. Berdzikir terus menyebut asma Allah, tidak terganggu. Akhirnya tikus tersebut menghilang dengan sendirinya.
Kejadian lain, bila kami sekeluarga sedang berkumpul di ruang tengah. Tiba-tiba muncul benda bulat mengkilat seperti kelereng bergerak hilir mudik, atau memutari seluruh ruangan. Tidak pernah kami hiraukan. Hasan dan Husen kedua anak saya pun, sudah dinasihati untuk tidak takut atau mengacuhkan kelereng tersebut. Akhirnya, karena tidak dihiraukan, benda bulat mengkilat tersebut raib dengan sendirinya.
Kejadian yang dulu paling ditakuti dan membuat semua orang lari tunggang langgang ketakutan adalab bila jin tersebut menakut-nakuti dengan lengan yang sangat besar dan berbulu seperti kawat berwarna hitam. Jari-jarinya yang sebesar tiang listrik dengan kuku hitam tajam seperti cakar sebesar pisang nangka, bergerak-gerak seolah mengancam akan mencengkram korbannya. Tidak dihiraukan oleh semua orang.
Walaupun dalam hati dan perasaan masing-masing ada rasa ngeri. Tapi disembunyikan dengan berlaku biasa saja seperti tidak ada apa-apa. Malahan bila muncul kejadian seperti itu, seperti dikomando, para santri atau orang-orang yang diganggu malah tertawa. Seolah melihat sandiwara lucu, yang dinantikan sebagai lawakan yang memancing tawa penonton.
DESSULAEMAN

Mengamuknya Jin Islam di Keresek (Bagian 14)


Oleh : HASBA
Sudah pernah diceritakan, kalau saya hampir menemui ajal, hampir meregang nyawa saat sebuah golok menyambar ke arah leher saya. Gangguan demi gangguan masih banyak lagi, tidak bisa diceritakan semua. Karena, akan membuat bosan para pembaca. Misalnya, ada yang pernah ditelanjangi tengah malam atau siang, ada yang ditarik dan disembunyikan selimutnya kemudian ditelanjangi, sehingga pada waktu bangun kedinginan, selimut dan baju yang terbang di atas pemiliknya, ada yang kedua lengannya dimasukan ke dalam lobang lengan bajunya sehingga kedua lengannya tidak bisa bergerak. Ada juga yang dimasukkan ke dalam karung, kemudian lobang karungnya dijahit seperti mengarungi beras. Santri yang sedang berdzikir, tasbihnya ditarik, Ada yang sedang bersujud, tubuhnya digulingkan sampai tak berkutik, atau ada juga santri sedang sujud tikarnya ditarik sehingga jadi tersungkur.
Yang belum diceritakan adalah banyaknya surat-surat dari jin yang bernama Siti Kolbuniyah itu. Menulis suratnya di secarik kertas, dengan pensil merah. Pada awal mulanya surat tersebut, tulisannya bukan Bahasa Arab, entah bahasa atau tulisan apa yang dipakainya. Entah mungkin bahasa atau huruf di negeri Habsyi. Tulisannya curat-coret tidak bisa dimengerti, dengan ukuran hurup melebihi ukuran hurup di kita. Hanya, terpikir saja kalau carikan kertas dengan tulisan merah itu adalah sebuah surat. Jin itu menyimpan yang saya pikir surat itu di bawah bantal yang biasa saya gunakan untuk tidur atau di sarung bantal kecil untuk menancapkan jarum. Kadang-kadang malah, sarung bantal itu sendiri yang dijadikan korban, ditulisi dengan hurup dan bahasa “Alien” tersebut. Menjadikan sarung bantal jadi sangat kotor. Apa yang dituliskan, sama sekali tidak bisa ditangkap maknanya. Sehingga, semua carikan-carikan tersebut saya bakar. Di kemudian hari saya merasa menyesal, karena surat-surat tersebut bisa dijadikan bukti untuk penulisan kisah nyata ini. Surat-surat tersebut bisa dijadikan bukti otentik, adanya tulisan jin Siti Kolbuniyyah. Mungkin bisa dijadikan bahan penelitian di Chanel History dalam acara Ancient Alient, membuktikan keberadaan mahluk halus.
Diakibatkan surat-suratnya sering dibakar, jin itumenjadikan pengganti kertas adalah sarung-sarung bantal. Mungkin agar, tidak dibakar atau maksudnya ingin agar tulisannya dijadikan perhatian dan dibaca oleh saya. Saya mengerti apa yang tertulis di carikan-carikan kertas itu bukan sekedar tulisan. Tapi, tulisan yang mengandung arti atau surat. Karena begitu seringnya tulisan tersebut muncul di berbagai tempat. Dugaan awal saya, mungkin jin itu mengajak berkomunikasi langsung. Mengajak berdamai atau ada yang ingin disampaikan jin itu kepada saya. Karena kesal, dengan kotornya sarung bantal yang selalu dicoreti jin itu, sehingga harus mencucinya berulang-ulang.
Akhirnya, saya menuliskan beberapa kalimat. Siapa tahu jin itu membalasnya. Kalimat yang saya tulis: “ Kalau curat-coret kamu di kertas yang dibakar adalah benar sebuah surat yang ditujukan kepada saya. Saya minta, kamu menulis dalam huruf latin atau hurup yang bisa dibaca oleh saya, manusia. Serta bahasa yang dipakai harus bahasa Sunda, karena saya adalah manusia Sunda!” lalu catatan itu diletakan di atas bantal. Tidak sampai sepersekian detik, entah darimana datangnya, Muncul sebuah jawaban di secarik kertas dengan tulisan pensil merah, memakai aksara Latin dalama bahasa Sunda. Tapi, ya ampuuun. Bahasa yang digunakan, bahasa kasar dan berbau porno. Malahan, makin ke sini, bahasa yang digunakan sangat jorok dan kotor. Mungkin dia merasa sudah sangat akrab. Bagaimana isi surat-surat tersebut, nanti di belakang diceritakan. Sekarang kita tunda dulu. Saya akan ceritakan, bagaimana upaya selanjutnya saya untuk mengusir jin tersebut, Kotak surat atau brievenbus yang dijadikan tempat menyimpan surat oleh Nyai Siti Kolbuniyah adalah di bawah bantal saya. Saya biarkan sampai menumpuk berupa carikan-carikan kertas.
Saya selalu bertawakal kepada Allah SWT saking ingin bisa mengusir jin tersebut. Adalah percuma, sekalipun dia menyerah kalah tapi tidak minggat dari rumah saya. Tetap akan membuat berabe dan tidak nyaman dalam rumah saya. Membaca isi suratnya, yang sudah bisa dimengerti karena memakai hurup latin dan bahasa Sunda. Jin itu bercanda sangat keterlaluan. Saya, sudah kehabisan akal, bagaimana caranya menaklukkan dan mengusir jin kebandelan dan kejahilan jin tersebut.
Sulitnya, jin itu selalu lebih unggul daripada orang pintar yang akan mengusirnya. Kiai dan Mak Paraji tidak ada yang berdaya. Menyerah karena kesaktian jin tersebut. Akhirnya, saya menyadari. Seharusnya saya hanya berpegang dan berharap kepada Allah SWT bukan kepada sesama mahluk. Secara pribadi saya bertekad akan melawan habis-habisan. Perang total dengan segala kemampuan diri yang ada untuk melawan jin itu sendiri. Tidak akan meminta bantuan kepada orang lain atau orang pintar lagi.
Bukan, karena tidak percaya dengan ilmu orang lain, bukan takabur. Bukan menolak bantuan sukarela dari mereka yang peduli dan menyayangi saya. Bukan karena sudah tidak ada lagi yang ingin membantu mengusir jin itu. Tapi murni ingin berusaha sendiri, dengan kemampuan diri sendiri. Tidak melibatkan orang lain. Karena, awal mula masalah itu muncul, diakibatkan oleh saya. Saya sendirilah yang harus menyelesaikannya
DESSULAEMAN

Mengamuknya Jin Islam di Keresek (Bagian 13)



Mengamuknya Jin di Keresek (Bagian Ketigabelas)
Oleh:  Hasba
Saya terus berusah untuk mengusir jin tersebut. Jin yang sulit untuk diusir, karena tidak ada yang mampu mengusir jin tersebut. Bukan ajian yang tidak sakti, bukan ilmu yang tidak mampu, bukan pula doa yang tidak mempan. Tapi, karena ilmu jin tersebut lebih sakti, lebih tinggi daripada orang yang merapa ajian atau doa tersebut.
Terbukti sewaktu saya mendatangkan seorang ahli debus dari Cirebon, yang terkenal sakti mandraguna. Orang yang terkenal si pahit lidah, karena ilmunya pasti manjur untuk mengusir setan, iblis ataupun jin. Dukun yang terkenal ke seluruh daerah, baik di timur atau di barat, di utara atau di selatan. Semua jin yang digjaya, sering menggoda manusia, berlaku jahil aniaya kepada manusia tidak ada yang berdaya menghadapi semburan air ludahnya.
Sanusi, begitulah orang tersbut di panggil, orang pintar dari Tegal Gubug. Terkenal di seluruh daerah bagian utara, beliau adalah tukang menaklukan setan, Iblis dan jin. Bila Sanusi sudah turun tangan, maka tidak ada satupun setan, iblis dan jin yang mampu menahan keampuhan ilmunya. Nah, kepada Sanusilah saya barharap dapat mengusir jin yang mendekam dan mengganggu kedamain di pesantren.
Saat datang ke rumah saya, Sanusi langsung berkata, bahwa kedatangannya adalah lillahita’ala hanya ingin membantu dan mengembalikan kedamaian di pesantren. Kedamaian yang direnggut oleh jin yang ingin membalas dendam atas kematian suaminya (padahal saya tidak ada niat sedikitpun untuk melakukan pembunuhan tersebut).
Sanusi, langsung melakukan ritual pengusiran jin tersebut. Dimulai dengan membaca doa, kemudian dia menuliskan surat Alamtaro di daun pintu bagian atas. Dia menuliskan surat tersebut dengan cara diputus-putus, seperti tulisan-tulisan Arab di isim atau ajimat yang sering dilakukan oleh sebagian orang pada waktu melakukan ritual Rebo Wekasan. Isim atau ajimat, yang biasanya dimasukkan ke dalam air, kemudian airnya diminum atua dipakai untuk mencampuri air untuk mandi. Baru saja Sanusi, menuliskan surat Alamtaro tersebut, belum sampai setengahnya. Tiba-tiba, terdengar suara jernih dan merdu. Suara tersebut sangat fasihah dan makroj hurufnya sangat tartil. Ayat yang dibacakan adalah ayat yang setiap kali akan dituliskan oleh Sanusi di daun pintu.
Dari hal ini saja jelas, bahwa, jin perempuan itu lebih tinggi ilmunya daripada Sanusi. Terbukti, jangankan takut saat dituliskan ajimah oleh Sanusi. Dia, malah melakukan qiro’at dengan suara yang merdu, lebih faham perihal Al Quran. Sesat setelah jin tersebut membacakan surat Alamtaro, di depan para hadirin. Entah darimana datangnya, sebuah kertas putih lengkap dengan tulisan warna pensil merah seperti biasanya. Isi surat tersebut, menantang duel kepada saya untuk mengadu ilmu dan kesaktian, mengajak berdebat tentang masalah ilmu yang dua belas.
“Bila Ustadz (jin itu menyebut saya ustadz) penasaran ingin menjajal ilmu yang Ana miliki dangan ilmu yang ustadz dapatkan dari Ayah ustadz. Baiklah, ayo ustadz mau nanya apa kepada Ana!”
Kesaktian Sanusi dari Cirebon, ternyata tidak mempan mengusir Jin Siti Kolbuniyyah yang mengganggu di rumah saya. Jin itu malah menantang mengaduk ilmu. Detik itu juga, Sanusi memohon maaf, sambil tertunduk-tunduk. Menahan malu, dan mengakui kesaktikan dan ketinggian ilmu dari jin tersebut. Tidak lama kemudian Sanusi pamit. Dia mengatakan jin yang ada di rumah saya, bukan jin sembarang jin, tapi sepertinya jin santri yang menguasai denga n baik ilmu agama. Percuma saja, dia melanjutkan ritual pengusiran dan mengeluarkan ilmu kesaktian untuk melawan jin itu.
Apa yang diucapkan Sanusi tidak salah, sebab kenyataannya Iko, keponakan saya yang pertama kali bermimpi tentang jin Siti Kolbuniyyah, sebelum mengamuk. Suatu malam Iko, sedang menghafalkan, menalar kita Alfiyah dalam bab Idhofat. Iko malah sengaja diledek, dan dijadikan candaan oleh Siti Kolbuniyyah. Ledekan dan candaan yang dilakukan oleh jin tersebut akan membuat terbelalakn orang yang paling cerdas sekalipun. Betapa tidak. Sekalipun seorang profesor, kalau menalar sesuatu kalau membaca dari atas ke bawah. Berurutan dari paragraf pertama, lanjut ke paragraf kedua, ketiga dst. Apalagi kalau paragraf tersebut berbentuk Couplet. Dari bait awal, lanjut ke bait kedua, ketiga dan seterusnya. semua yang ditalar tersebut harus berurutan, dari kepala baru ke ekor, sehingga susunannya tidak kacau balau.
Tapi, lain yang dilakukan oleh Siti Kolbuniyyah. Dia membacakan bait-bait alfiyah dilakukan secara terbalik. Di membacakan mulai dari ekor (bawah) dilanjutkan ke kepala (atas). Hal tersebut dia lakukan dengan sangat lancar, tidak ada istilah tanggung atau ragu-ragu (kagok). Tidak tersendat atau jeda sedetikpun. Tertib dan lancar seperti kita membaca biasa, padahal apa yang dilakukan jin itu dilakukan sebaliknya. Siapa orangnya yang bisa melakukan,menalar alfiyah secara terbalik? Silakan aja coba sendiri, dengan menyanyikan lagu Indonesia Raya, tapi dinyanyikan bait-baitnya dari kalimat terakhir kemudian ke kalimat awal. Plus, menyanyikannya harus dalam tempo cepat dan tidak boleh ada jeda.
Kesimpulannya, jin ini dipastikan adalah jin yang sangat pintar dan cerdas. Ternyata jin juga, kalau sudah pintar tidak tanggung kepintarannya. Bila cerdas, tidak tanggung kecerdasannya. Bila jin ingin mengaji, maka dia akan mengaji dengan sungguh-sungguh sampai dia benar-benar mengerti. Sifat dan kelakuan tersebut adalah karunia dari Illah Robbi yang Maha Suci. Sebaliknya, bila jiin berbuat jahat, maka kejahatannya melebihi kejahatan mahluk lain yang ada di dunia. Kalau jin itu berbuat jahil atau iseng, makan kejahilan dan keisengannya melebihi kejahilan dan keisengan mahluk yang ada di muka bumi. Kalau jin menakut-nakuti, maka perbuatan menakut-nakuti orang tersebut akan membuat seorang penakut langsung mendapat gelar almarhum karena serangan jantung mendadak. Begitupun, bila jin itu menampakan diri dalam bentuk rupa yang cantik jelita, maka kecantikannya akan melebih seorang bidadar sekalipun. (memangnya Ceng Hasan Basry pernah bertemu dengan bidadari? (penulis))
Begiitu pula, bila jin tersebut menampakan diri dalam rupa yang buruk. Pasti keburukannya, melebih wajah seburuk-buruknya manusia di muka bumi. Dalam cerita Sunda ada tokoh yang disebut Carmad, seorang tokoh buruk rupa. Tetapi, bila manusia ditakut-takuti oleh keburukan rupa Carmad tidak akan seberapa rasa takutnya bila ditakut-takuti oleh keburukan rupa dari rupa jin yang menampakan diri dalam wajah yang paling buruk.
Sifat jin bila diberi sifat bengal, sealim-alimnya jin, pasti diberikan sifat bengal. Sampai ada peribahasa, sealim-alimnya jin sama dengan sedholim-dholimnya manusia. Ulamanya jin, kiayinya jin yang paling alim, sama dengan pencuri kawakan, tukang begal, tukang maling dalam kalangan manusia.
Saya mengucap puji syukur ke hadirat Allah SWT yang masih melindungi saya, keluarga dan para santri saya sehingga masih bisa bernafas sampai detik ini. Bila tidak ada perlindungan dan rahmat dari Allah SWT, dipastikan saya sudah menjadi almarhum. Walaupun, karena tekanan batin dan stress berat atas godaan dan teror yang dilakukan oleh jin tersebut menjadikan tubuh saya kering kerontang, kurus hanya tulang berbalut kulit. Karena tidak enak makan, tidak enak tidur, dan berpuasa untuk mendapatkan tingkat kesabaran seperti yang dinasihatkan Ayahanda dalam mimpi. Saya berharap, semoga gangguan jin cepat berlalu dan kehidupan saya bisa kembali berjalan normal seperti biasanya (BERSAMBUNG).
DESSULAEMAN

Tuesday, December 10, 2019

Mengamuknya Jin Islam di Keresek (Bagian Ke 16)



Oleh: HASBA

Diajak Nikah oleh Jin Siti Kolbuniyah

Ternyata dengan taktik yang baru ditemukan pada tahun kelima setelah jin itu mengamuk, mendapatkan hasil yang cukup menggembirakan.  Ternyata bukan dengan senjata tajam, bukan dengan cara  mengadu ilmu.  Ternyata cukup dengan tidak diacuhkan. Dibiarkan dan tidak ditanggapi. Tidak ditakuti, sehingga jin itu merasa menang dengan perilaku jahatnya.  Soalnya bila dilawan dengan kasar, jin tersebut malah makin menggila, makin berani bukannya takut. Bukannya pergi atau kabur dari rumah saya.  Tapi malah melawan dengan lebih kasar. Lebih kasar dan lebih menggila tingkat kejahilan dari sebelumnya.

Tapi, dengan cara diboikot dan  membiarkan serta tidak menanggapi apa yang dilakukan jin tersebut.  Ternyata semangat jin untuk menjahili, menakut-nakuti dan seolah mengancam jiwa saya jadi berkurang.  Malah jauh berkurang.  Entah mungkin bosan, atau merasa tidak diacuhkan jadi malu sendiri,  Kalau di dunia manusia, tidak pernah memberi kesan senang, takut atau panik.  Tidak diberi senyuman, tidak pernah ditanya, dibiarkan apa maunya.  Bukan dengan cara dilawan dengan kata-kata atau dilawan dengan kasat mata.  Tapi harus tidak dipedulikan dan dibiarkan semau-maunya dia.  Jangan terkesan kita menanggapi apa yang dilakukannya. Apapun yang dilakukannya dianggap tidak ada. Eksistensi jin itu dianggap tidak ada, dianggap angin oleh semua.

Dengan jalan seperti itu jin tersebut  merasa sudah tidak laku lagi jualannya.  Sudah tidak pengaruh apapun.  Apapun yang dikerjakan untuk meneror, menjahili, menakut-nakuti kami. Semua dianggap angin lalu.  Jin tersebut merasa hasilnya adalah NOL BESAR. Sia-sia belaka.  Semua santri kompak, menuruti apa yang saya lakukan, bahwa jangan pernah menunjukkan rasa takut terhadap kelakuan jin yang menakut-nakuti mereka.  Jin tersebut sepertinya sudah menyerah dan merasa usahanya tidak memberi hasil apapun.  Santri mengatakan saat “dicuekin” jin tersebut jadi merasa malu sendiri, jadi semua gangguan berhenti dengan sendirinya.  Bila santri menunjukkan rasa takut atau panik, dia malah senang. Karena merasa disukai dan diperhatikan manusia.

Tidak memakan waktu yang terlalu lama, tanda-tanda bahwa jin tersebut merasa sudah tidak lagi diperhatikan dan tidak lagi ditakuti oleh semua penghuni pesantren.  Jin tersebut  makin sering mengirim surat yang diletakan di bawah bantal saya.  Surat-surat itu saya baca, tapi tidak pernah diberi tanggapan apapun.  Setelah dibaca lalu dibakar.  Ternyata, sekarang saya menyesal dengan pembakaran surat dari jin tersebut. Karena tidak ada bukti untuk sekedar kenang-kenangan untuk kisah yang sekarang Anda baca.

Tidak saja dalam kehidupan manusia dalam kehidupan jin pun sama saja.  Tidak pada jin tidak pada manusia, bila dibiarkan dan tidak dihiraukan.  Jadi merasa tidak enak perasaan.  Apalagi bila kita mengirim surat kepada orang terkasih kemudian tidak mendapatkan balasan. Menurut bahasa anak muda mah, dikacangin.  Pasti perasaan dan hati kita merasa tidak enak.  Akhirnya, tautan hati dan perasaan akan hilang dengan sendirinya.  Hubungan terputus tanpa sebab yang jelas karena tidak ada balasan atau kabar apapun dari si dia.

Bila tidak dibakar, surat-surat yang dikirim oleh jin Siti Kolbuniyah tersebut pasti makin menumpuk.  Tapi, sebelum dibakar surat tersebut semua dibaca terlebih dahulu.  Karena dikhawatirkan ada ancaman tertulis  yang mengancam jiwa saya dan keluarga saya.  Namun, kalaupun memang ada ancaman, tidak takut sedikitpun.  Saya tidak akan mundur sejengkal pun,karena hati saya sudah sekeras batu bahwa Allah akan melindungi umat-Nya.  Makin tebal keimanan kita terhadap Allah SWT, maka sesulit apapun ujian dan cobaan pasti akan terasa ringan karena keyakinan akan adanya pertolongan Allah SWT.

Dari sekian banyak surat-surat yang dikirim oleh jin Siti Kolbuniyah, hampir semuanya berisi kalimat yang jorok (jorang, cawokah) dan porno.  Orang yang membacanya pasti akan merasa malu sendiri.  Apalagi diri saya yang tidak pernah berbicara jorok atau porno.  Kata-kata yang tersusun dalam surat -surat jin Siti Kolbuniyah tidak hanya membuat pembacanya malu sendiri. Saking kasar, jorok dan porno kalimat-kalimat dalam suratnya.  Membuat bulu kuduk kita berdiri.  Merinding, sekaligus membuat mual, kesal dan ingin muntah.  

Audzubillah min dzalik.,betapa jorok dan pornonya, kata-kata jin tersebut.  Pokoknya tidak akan keluar dari mulut manusia baik-baik. Jin tersebut berani menggunakan kalimat sisindiran (pantun yang mengandung ironi) dengan bahasa Sunda “eceng gondok dina panto, toroktok ole-olean”.  JIn tersebut menuliskan sisindiran tersebut dengan arti atau maksudnya yaitu: “Hayang …. jeung nu donto, nu montok hayang …  

Ternyata jin Siti Kolbuniyah itu menulis surat sampai bertumpuk-tumpuk, dia mempunyai rasa asmara.  Menuliskan perasaan jiwanya, kalau sedang jatuh cinta.  Lima tahun merasa kesepian karena menjanda ditinggal kekasih hati.  Malahan dalam surat terakhir, jin Siti Kolbuniyah menyatakan rasa cintanya kepada saya, dia meminta saya untuk menikahinya.

Sepertinya menurut persangkaannya dengan bahasa jin, dia menuliskan perasaan cintanya kepada saya dengan bahasa pujangga. Penuh puja puji, penuh kata cumbu rayu, membuat hati yang membaca akan berpaut pada dirinya.  Tapi,disebabkan tatabahasa yang dipakai adalah tatabahasa jin, seolah saya juga sebangsa jin seperti didirnya.  Membuat saya malah jadi pingin muntah karena jijik dengan kata=katanya yang super jorok alias super porno.  Dia merayu, menyebut saya dengan sebutan habibi (kekasihku)  kadang menyebut saya ustadz.


Dalam surat rayuannya, jin itu menyebutkan bagian tubuh yang paling dirahasiakan untuk kita kalangan manusia. Dia menyebutkan dengan lengkap sifat dan ciri bagian tubuh dirinya.  Dia menyebutkan kecantikan dan keelokan tubuhnya. Disebutkan misalnya, rambutnya sangat panjang.  Kalau kita manusia, paling-paling menyebutkan sifat bulu mata yang lentik, alisnya hitam tebal.  Ternyata di dunia perpujanggan dan persastraan jin, semua perbuluan disebutkan dengan jelas dan tegas. Malah yang bikin jijk, kalau kita manusia menutup-nutupi bagian yang paling intim.  Dalam dunia mereka diceritakan dengan nyata. Jin itu menyatakan, “Bila habibi, penasaran dengan apa yang ada di dalam rok saya.  Saya persembahkan semuanya untuk habibi.  Ana akan terangkan dengan sejelas mungkin.  Maka dari itu kawinilah Ana segera, wahai habibi!” (BERSAMBUNG)


Sunday, December 1, 2019

Mengamuknya Jin Islam di Pesantren Keresek (Bagian 12)

Oleh: Hasba

Den Didi, seorang santri dari Cianjur. Entah mengapa malam itu dia ketinggalan solat Isa berjamaan di masjid. Dia memberanikan diri solat sendirian di masjid, saat orang lain sudah kembali ke kobongnya masing-masing. Dirinya sudah tidak bisa berkonsentrasi, dipenuhi rasa takut.  Dia mereka-reka seandainya dia sedang sholat tiba-tiba muncul hal-hal yang menakutkan. Dia membayangkan, tiba-tiba dari atas langit-langit ada yang terbang mendekat lalu menerkam dirinya seperti yang dialami Den Djaja. Akhirnya, sholatnya jadi tidak khusu, Doa-doa sholat tak mampu dibacanya dengan tartil, karena dirinya diliputi rasa takut yang berlebihan. 

Saat berdiri Den Didi, sudah tidak bisa tumaninah.  Kepalanya tidak berani menunduk, mata tidak berani menatap sajadah. Pikiran tidak bisa berkonsentrasi kepada Sang Maha Pencipta.  Karena tidak khusu, matanya melirik ke atas kuda-kuda di atas tempat sujud.  Terlihat ada sebuah benda bulat  mengkilap sebesar kelereng. Benda bulat mengkilap itu bergerak, ke sana kemari di atas lantai bambu masjid. Terdenganr suara bergeraknya benda bulat itu di atas lantai bambu seperti suara kelereng yang bergerak menggelinding.  Den Didi, memejamkan matanya, dia tidak ingin sholatnya batal hanya karena melihat benda bulat mengkilap yang bergerak tidak henti di hadapannya.  

Tapi, walaupun dipejamkan matanua, tetap saja secara hukum sholatnya sudah batal karena pikirannya sudah tidak menentu dengan bacaan sholatnya yang kacau balau. Membaca surat Al-Fatihah, berputar-putar, satu ayat diulang-ulang dan tidak berurutan. Bacaannya jadi kacau balau. Walaupun begitu, Den Didi terus memaksakan diri. Mencoba bertahan, sementara benda bulat mengkilap itu tidak berhenti terus bergerak dan berputar di hadapannya.  Kemudian, benda bulat mengkilap mirip kelereng itu bergerak makin meluas, tidak hanya bergerak, berputar di hadapan Den Didi saja. Seluruh  permukaan lantai bambu, dijelajahi benda bulat mengkilap itu sambil mengeluarkan bunyi khas, saat kelereng bergerak di atas lantai.

Sesaat kemudian, bergerak  kembali mendekati Den Didi.  Sesudah tepat di hadapannya, tiba-tiba benda bulat mengkilap itu menghilang. Tidak lama kemudian, dalam hitungan sepersekian detik setelah lenyap, leher bagian belakang Den Didi ada yang mengusap. Usapan di leher belakang tersebut, membuat Den Didi membatalkan sholatnya. Kemudian menoleh ke belakang sambil diliputi rasa takut.  Siapa yang mengusap lehernya? Begitu dia melihat ke belakang, tampak ada yang melambaikan tangan ke Den Didi sambil menyeringai. 

Den Didi, akhirnya balik kanan, berlari menuju pintu masjid. Namun, karena panik dan rasa takut yang berlebihan. Dia harus jatuh bangun, beberapa kali kemudian berlari tunggang langgang.  Apa yang ada di hadapannya ditabrak tak karuan.  Di tangga masjid yang juga terbuat dari bambu, tubuhnya terjatuh dan terbanting menghantam tanah di kegelapan malam.  Suara gedebak-gedebuk lantai bambu dalam mesjid di malam yang sunyi, diakhiri suara gedebuk tubuh yang menghantam tanah. Tentu saja terdengar oleh santri, para santri malah bersorak.  Menyangka ada santri yang kakinya terperosok di jembatan bambu di atas kolam yang mennghubungkan kobong di atas kolam dengan masjid. 

Namun setelah diketahui bahwa suara gedebuk itu tubuh Den Didi, yang tidak bisa terbangun lagi alias pingsan. Para santri berdatangan, ramai-ramai menolong dan mencoba menyadarkan Den Didi dari pingsannya.  Kulit wajah Den Didi tampak pucat pasi seperti mayat, bajunya basah oleh keringat dingin. Nafasnya satu-satu, tubuhnya terkulai tanda hilang kesadaran.  Tubuhnya, segera digotong oleh empat orang, kemudian dibawa ke kobongnya.   Mulut Den Didi Jontor, bengkak berdarah, jidatnya benjol akibat menghantam tiang. Keesokan harinya, dia berjalan terpincang-pincang karena kakinya keseleo.  Untung tidak sampai patah, karena dia terperosok dan terbanting teramat kerasnya. 

Kejadian yang dialami Hambali beda lagi. Masih ingat sampai sekarang ke Hambali. Pokoknya setiap melihat kursi yang bisa berputar, seperti kursi tukang cukur di kota-kota, saya pasti teringat Hambali. Walaupun hidup sedang susah dan tidak nyaman, karena gangguan jin. Ada sedikit rasa bahagia, karena saya mempunyai kursi baru yang bisa diputar-putar sambi diduduki.  Saking senangnya, kursi itu diletakkan di ruang tamu di bawah jam dinding. Setiap duduk, saya sedikit demonstrasi kepada para santri, kursi itu diputar digerakkan ke kiri dan ke kanan.  Kursi itu menjadi kebanggaan tersendiri, karena satu desa Keresek, mungkin saya satu-satunya yang mempunyai kursi berputar, kecuali Juragan Wedana di kantornya.

Waktu itu sedang bulan purnama.  Hambali keluar dari kobongnya sendirian berniat sholat Isya.  Karena, tidak mengetahui jam berapa dia terbangun, akibat ketiduran sehingga sholat Isya ketinggalan berjamaah.  Dia berniat melihat waktu di jam dinding di dalam ruang tamu. Di mana kursi baru yang bisa berputar diletakkan. Hambali mengintip dari balik gorden, tapi kurang jelas.  Karena tidak jelas, Hambali naik ke jendela dan mengintip dari lubang angin.  Saat itu dia melihat di atas kursi ada yang sedang duduk.  Dia menyangka yang sedang duduk itu saya.  Orang itu tampak duduk sambil terus menerus, tidak henti memutar-mutarkan kursi ke kiri dan ke kanan.  

Pulang dari masjid, Hambali kembali lagi ke teras rumah, maksudnya untuk melihat saya yang menurut sangkaannya sedang duduk di kursi baru. Di mengintip dari balik gorden,kemudian menyapa, “Jam berapa sekarang Pak Kiai?  Kenapa selarut ini belum tidur? Atau Pak Kiai, sedang senang-senangnya dengan kursi baru ya?”  Tapi, hambali terheran-heran, karena saya katanya tidak seperti biasanya. Soalnya, Pak Kiai itu kalau ditanya, dalam keadaan sedang apapun, Pasti menjawab.  Dia penasaran, kemudian diamatinya yang sedang duduk itu lebih seksama.  

Ternyata yang sedang duduk itu tubuhnya sangat gendut, berbeda dengan tubuh saya yang kini kurus.  Makin lama, tampak makin jelas, yang duduk itu gendutnya melebihi gendutnya manusia yang paling gendut. Kulit pipinya tampak, sampai bergelambir terjatuh ke bawah.  Begitupun bagian dada dan perutnya, tampaknya sangat gemuk lebih dari gemuk.  Karena pada saat duduk, tampak dada dan perutnya terjatuh dan melebar di atas pahanya.  Wajah dan perawakannnya seperti kodok yang sangat besar yang sedang duduk.  Di kepalanya, tampak memakai topi putih, di lehernya terkalung kain sorban panjang.  

Hambali makin heran, tapi dia terus menatap yang sedang duduk tersebut.  Belum ada pikiran apapun, Dia malah menyangka kalau yang sedang duduk itu adalah tamu saya.  Karena saya tidak pernah memakai topi putih haji atau sorban, karena belum pergi haji.  Kemudian, Hambali ingat, hari itu tidak ada tamu di rumah saya.  Jadi yang sedang duduk itu adalah….!!!  Hambali, akhirnya lari lintang pukang, pontang panting, berlari secepat yang dia bisa. “Braaaak!” Pintu kobong yang tertutup rapat dan dikunci kayu dari dalam, dilabrak.  Tubuhnya terjerembab sesaat sesudah menabrak pintu kobong. Kepalanya benjol karena diadu dengan daun pintu.  Semua santri di kobong yang sedang tertidur akhirnya terbangun.

Saking seringnya saya dan santri-santri saya diganggu dan dijahili oleh jin.  Akhirnya jadi terbiasa. Tidak terlalu takut, seperti pada awal mulai godaan dan gangguan jin itu.  Apalagi, bila teringat akan pesan Ayahanda saya dalam mimpi.  Bahwa, saya dijaga oleh beliau, serta bila si Jin akan berniat mengancam nyawa saya, Insya Allah akan dibela.  Buktinya, ternyata benar apa yang dilakukan si Jin itu dari hari ke hari makin “menjinak”, cuma becanda.  Becandanya jin, yang menurut pemikiran dan perasaan manusia amat sangat di luar batas kemanusiaan.

Sementara itu, saya tidak berhenti berikhtiar bagaimana agar jin itu bisa diusir.  Lebih baik tidak ada satupun mahluk seperti itu yang perkerjaannya hanya mengganggu dengan kejahilan-kejahilan yang tidak lucu dan membahayakan saya dan santri. Akhirnya, saya membuat keputusan untuk menghibur diri. Anggap saja gangguan demi gangguan yang dilakukan oleh jin tersebut, sama dengan saya memelihara topeng monyet atau memelihara monyet yang galak. Semua kejahilan dan gangguan yang dilakukannya, saya ikhlaskan kepada Allah SWT. Allah yang menggerakkan dan membolak-balikkan semua pekerjaan makhluk-Nya. Tanpa seijin-Nya seluruh makhluk di muka bumi ini tidak akan berdaya.  Begitupun, apa yang dialami saya. Tanpa, seijin dari Yang Maha Suci, pasti jin itu tidak bisa melakukan gangguan apapun atas diri saya.

Buktinya dukun sakti mandraguna, tidak satupun yang mampu melawan atau mengusir jin di pesantren saya.  Saking seringnya gangguan jin tersebut, saya jadi hafal kapan dan kira-kira siapa yang akan menjadi korban jin itu.  Terutama pada waktu ada pengajian atau saat berkumpulnya orang-orang di masjid, jin itu pasti muncul dan mengirim terror yang membuat hati yang tidak mengetahui jadi kebat-kebit. Jin itu akan menemui dan muncul dengan segala kejahilan dan godaannya ke hadapan orang-orang yang sompral (ngomongnya nangtangin), para penakut serta entah apa lagi yang menjadi ketidaksukaannya. 

Sebab, dari hasil pengalaman selama ini.  Saya jadi bisa menilai apa yang paling tidak disukai jin itu.  Salah satu ketidaksukaannya adalah pada petai atau bila ada petai di rumah harus langsung dihabiskan sebanyak apapun adanya.  Setiap kali ada petai di rumah, dalam sekejap mata akan hilang dari tempatnya. Walaupun pete tersebut disimpan di lemari yang dikunci. Pasti lenyap! Kemana? Ternyata petai tersebut diambil atau dicuri jin itu.  Kemudian, petai itu dipakai untuk menyembur orang-orang di pesantren.  Semburan petai yang sudah halus seperti sudah dikunyah tersebut, muncrat berhamburan. Penyemburan kunyahan pete yang dilakukan jin itu tidak pandang bulu. Orang yang sedang lewat, sedang mengaji, membaca kitab, atau yang sedang berkumpul mengobrol.  Semua disembur dengan semburan pete yang sudah dikunyahnya! Akhirnya, semua bubar jalan tidak karuan, bila jin itu sudah beraksi menyembur-nyemburkan topan petai kepada korbannnya! 

Semburan-semburan kunyahan petai itu belum berakhir selama petainya masih ada. Anehnya, dia hanya mencuri atau mengambil petai yang ada di rumah saya.  Petai yang ada di warung atau masih melekat pada pohonnya, tidak diganggu gugat.  

Bila orang-orang sedang berkumpul, mengobrol mengisi waktu.  Entah dari mana datangnya, tiba-tiba hujan semburan petai terjadi sangat mendadak.  Menyerang wajah dan tubuh orang-orang yang sedang ngerumpi itu. Mereka mau berlari-berlari kemana.  Berlari ke utara, disangka menjauh dari pusat semburan ternyata malah sebaliknya. Tidak tahu arah yang aman dari semburan petai ke mana. Disangka menjauh dari pusat semburan petai, ternyata malah mendekat.  Masih mending, orang yang berdiam diri dan bersikap pasrah. Tidak akan terlalu disembur si mulut jahil itu. Tapi, orang-orang yang ketakutan dan berlarian ke sana kemari, malah dijadikan bulan-bulanan serangan semburan petai yang sudah dikunyah tersebut!  Akhirnya, seluruh wajah dan rambutnya dipenuhi dengan semburan kunyahan petai yang baunya bertambah-tambah dengan air ludah jin itu yang super lengket! (BERSAMBUNG)

DESSULAEMAN

Friday, November 29, 2019

Mengamuknya Jin Islam di Keresek (Bagian 11)

Mengamuknya Jin Islam di Keresek (Bagian 11)
oleh: HASBA

Satu waktu, Den Djaja anaknya juragan Naib Ciawi membiarkan dirinya sendirian di kobong.  Semua teman-temannya sudah berangkat ke mesjid untuk mengaji, dia bolos dan berdiam di kobong sendirian. Siang itu, dia sedang tidur-tiduran sambil menunggu waktu Asyar tiba. Saat waktu Dzuhur akan habis, dia masih menghapalkan salah satu pelajaran kitab kuning.  

Tiba-tiba terdengar suara “kretek, kretek, kretek....” seperti sura tikus yang akan masuk ke dalam kotak tempat penyimpanan kitab yang terletak di atas rak buku. Dia melirik ke arah datangnya suara.  Begitu matanya melihat ke arah rak, tampak di atas rak buku itu seorang perempuan muda cantik sedang bertumpang kaki, sambil menggoyang-goyangkan kaki  kanan yang menumpang di atas kaki kirinya.  Perempuan itu seolah mentertawakan dirinya.  Perempuan muda itu memakai mukena, kecantikannya tetap tampak jelas.  Hidungnya mancung, kedua matanya jeli, alisnya hitam tebal, tampak ada kentit di pipinya, gigi geliginya rapi dan putih bersih, bibirnya memerah delima, putih matanya tampak membayang garis tipis bayangan di kedua kelopak matanya.

Den Djaya tekenal sewaktu sekolah di H.I.S (sekolah menengah Belanda) sebagai playboy tukang mempermainkan perempuan.  Dia paling berani menghadapi teman atau guru perempuannya.  Setiap perempuan pasti tidak aman, oleh keisengan dan sifat playboy Den Djaya, semua korban dipermainkannya tanpa perasaan. Tapi, kenapa waktu itu  ada perempuan cantik malah datang ke kobongnya Den Djaya malah ketakutan? Saking kagetnya melihat perempuan cantik itu, tubuhnya sampai terlompat dari dipan dimana dia sedang rebahan.  

Sebelumnya, memang Den Djaja ini bicaranya sompral (nantangin) seperti yang dilakukan oleh Mantri cacar.  Dia bilang, walaupun setan tapi kalau wajahnya rupawan dan  menawan silakan datang.  Tapi, ternyata setelah setan cantik rupawan datang dia seperti tersihir. Tubuhnya membeku, tak bisa bergerak, kakinya kaku tak bisa dilangkahkan, mulutnya berteriak-teriak tapi tidak bersuara, perasaan suaranya mendadak serak padahal tidak ada suara yang keluar.  Dalam ketakutan dan kekalutan yang teramat sangat, tiba-tiba terdengar suara seruling yang membuat bulu kuduk jadi merinding.  

Bukan seruling yang menggugah kesadaran, membawa ke rasa asmara.  Bukan seruling yang membuat hati menjadi sedih, bukan seruling jeritan hati kepada kekasih.  Tapi suara seruling yang membuat jiwa teringat pada kematian. Suara seruling terasa sangat getir, membuat perasaan mati rasa. Nada suara seruling itu sangat tinggi, dan terdengar menjadi makin banyak. Mendekat ke arah telinga, membuat jiwa diliputi rasa takut yang amat sangat.

Den Djaya seolah-oleh merasa dirinya tinggal beberapa saat lagi menunggu diterkam dan ditelan oleh jin itu.  Kaki Den Djaya, mencoba untuk bergerak, niatnya ingin bangun kemudian berlari ke luar kobong.  Dalam ketakutan dan kekalutan, tiba-tiba perempuan cantik itu berkata, dengan posisi tetap duduk bertumpang kaki, suaranya serak kering mengerikan, “Kamu jangan gelisah. Diam dan jangan bergerak! Bila tidak, biji ka***t kamu akan saya remas!”  

Sesudah itu, dengan sangat mendadak sekali dan tidak disangka-sangka. Jin perempuan itu menerkam “jimat hidup” milik Den Djaya.  Kemudian jin itu berkata dengan suara mengerikan suaranya besar, serak dan dalam. “Akhirnya, kena juga kan**tmu, yang suka dipakai untuk berbuat jahat kepada perempuan!”  Den Djaja, akhirnya pingsan, tidak kuat menahan rasa sakit. Karena biji peler isi kolor diremas saking kerasnya.  Jangankan diremas dengan sangat keras, terpukul sedikit saja oleh manusia biasa membuat tubuh terhuyung-huyung. 

Den Djaya baru kembali sadar diri, setelah ditolong dan dijampi-jampi oleh teman-temannya.  Keesokan harinya Den Djaya pamitan, pulang ke Ciawi dengan membawa semua kitab dan pakaiannya. Dia bertekan tidak akan kembali ke pesantren selama jin itu masih mendekam di sana. (BERSAMBUNG).

DESSULAEMAN