Tuesday, November 12, 2019

Mengamuknya Jin Islam di Keresek (Bagian 1)

Prolog.

Pondok pesantren Keresek didirikan oleh KH. Thobri Pada tahun 1887. Kemudian diserahkan kepada putranya yang bernama K.H. Ahmad Nahrowi yang lahir tahun 1859 dan wafat tahun 1934. Dari pihak Ayah mengalir darah bangsawan kesultanan Cirebon dengan darah Ulama Garut yaitu Mbah Nuryayi Suci, sedangkan dari pihak Ibu yaitu Siti Umi Kulsum mengalir darah bangsawan Sukapura Tasikmalaya. 

Pada tahun 1935 K.H. Ahmad Nahrowi meninggal dunia, maka jabatan pemimpin pesantren diserahkan kepada anaknya yaitu K.H. Busrol Karim atau lebih terkenal dengan nama ajengan "Oco". Beliau adalah Kiai yang mengalami teror langsung dari Jin Islam Puteri Negeri Habsyi yang suaminya dibunuh karena ketidaktahuannya, kalau ular itu adalah suami sang Puteri. Penerus K.H. Busrol Karim (Wafat tahun 1977) adalah K.H. Hasan Basry yang dikenal dengan sebutan Kang Aceng (Wafat tahun 2009). Pesantren Keresek kini diurus oleh K.H. Usman Afandi anak ketiga dari enam bersaudara.

Jin Islam di Keresek (Bagian 2)

Pernikahan mereka didasari suka sama suka dengan keridoan dari kedua orangtua. Namun apa daya pernikahan suci mereka harus berakhir tragis. Suami sang Puteri harus tewas, meregang nyawa dalam keadaan mengenaskan di negara yang jauh dari negeri asal. Maklum tujuan mereka berdua dalam rangka berbulan madu. Sengaja memadu rindu dalam samudera cinta di negeri yang jauh dari negeri sendiri.  Berharap, mereka bisa asyik masuk berdua tidak ada yang mengganggu kemesraan mereka. Bisa memadu janji, merajut kalbu syahdu sambil menikmati keindahan alam di manca negara.

Belakangan, akan terkuak bahwa mereka berdua sebenarnya adalah pasangan pengantin baru yang berasal dari negara jin di Habsyi.  Malah sang puteri adalah anak kandung dari raja jin di negeri Habsyi tersebut alias sang puteri adalah puteri mahkota. Begitupun dengan suaminya, adalah anak raja di kerajaan tetangga, yang terpilih diantara sekian para pelamar sang puteri. 

Dia sangat tampan dan gagah, budi bahasanya halus, tindak tanduknya rendah hati sehingga terpilih oleh sang puteri menjadi pasangan hidupnya. Sang suami yang terpilih karena ketampanan wajah, kesonanan dan budi pekerti yang teruji sangat baik. Hasil pertimbangan matang, bertanya pada rasa, menimbang dengan cinta yang suci, dipilih dengan hati murni dari sang Puteri.  

Kini, sang suami yang dicintai telah terbujur kaku, dengan balutan perban berlumuran darah yang telah membeku. Tubuhnya dingin, belum disempat dikafani sebagaimana mestinya.  Sang puteri merasa sunyi sepi, berbaur dengan kepedihan yang tiada tara. Hanya bisa meratapi kematian suaminya sendirian, tanpa ada yang bisa diminta pertimbangan akan apa yang harus dilakukan dengan mayat suaminya.  Jiwanya, seperti melayang, hampa tiada tara. Kakinya serasa menapak atau tidak. 

Sang Puteri tak bisa menghentikan tangisannya, di atas dingin dada jenazah suaminya. Dia meratapi malangnya nasib diri, di negeri yang jauh tanpa kehadiran ayah bunda dan sanak saudara. Dalam isak tangis kepedihannya, sang Puteri menyanyikan tembang  Maskumambang (bentuk komposisi tembang macapat, biasanya dipakai untuk melukiskan kisah sedih atau keprihatinan yang mendalam). Menurut Iko (yang menceritakan mimpinya) keponakan saya, lirik tembang Maskumambang yang dinyanyikan sang Puteri kurang lebih begini:

1.  Duh manusa bet telenges teuing teu aya rasrasan, abong ka mahluk nu laif, amarah tẻh luluasan 
(Duh manusia kenapa kalian sangat kejam tidak ada batasnya, mentang-mentang kepada mahluk yang tidak berdaya, amarah kalian sangat keterlaluan).

2.   Ngumbar nafsu taya pangampura saeutik, abong kumawasa, luas nyiksa ngarah pati, kanu taya kasalahan.
(Mengumbar nafsu tanpa rasa maaf sedikitpun, mentang-mentang berkuasa, tega menyiksa dan mengambil nyawa mahluk yang tidak bersalah)
.
3.   Naha naon salahna salaki kami, ẻstu teu sapira, pẻdah wani ulak ilik, bari nyamar jadi oray.
(Apa salahnya suamiku, nyaris tidak ada, hanya karena berani hilir mudik, menyamar menjadi ular)

4.  Teu pelekik sumawonna arẻk jail, tina panasaran, hayang reujeung sidik rumah tangga manusa.
(Tidak ada niat jahat apalagi jahil, hanya karena penasaran, ingin mengetahui bagaimana cara berumah tangga manusia).

5.    Ngan sakitu salah salaki kami, asa teu pira, teu pantes di hukum pati.
(Hanya itu salah suamiku, Tidak seberapa, tidak pantas sampai harus dihukum mati.

6.    Kami ceurik sasatna tẻh bijil getih, banget nya nalangsa, paturay reujeung kakasih, jungjunan nu dipicinta
(Aku menangis berair mata darah, saking nelangsa, berpisah dengan kekasih hati, pujaan jiwa yang sangat dicinta).

7.   Aduh Gusti pangeran nu sipat asih, sim abdi tulungan ayeuna abdi nunggelis, taya pikeun pakumaha.
(Aduh Gusti, Tuhan-ku yang Maha Pengasih, Hamba mohon pertolongan karena kini sendiri, tidak ada orang yang bisa dimintai pertolongan)

8.  Abdi wangsung nyorangan ka nagri Habsyi, asa henteu tẻga, ninggalkeun mayit salaki, pajah teu bẻla ka bugang.
(Hambamu, kini sendiri harus pulang ke negeri Habsyi, rasanya tidak tega, meniggalkan mayat suami hamba, tidak pantas meninggalkan mayat suami hamba sendirian).

Lama sekali Tuan Puteri menangisi diri di samping mayat suaminya.  Tiba-tiba, matanya terbuka lebar, menjadi liar seperti baru tersadarkan. Kepalanya menengadah, lalu berdiri. Dia menjerit menembus langit,  berteriak menembus angkasa.  Kedua tangannya terangkat ke atas, lalu mengepal bergetar penuh amarah. Di lalu bertolak pinggang. Wajahnya merah padam penuh dendam. Gigi geliginya terdengar gemeletuk menahan nafsu tak terhingga. 

Dia mondar-mandir memutari mayat suaminua, dalam posisi menantang perang saking gemes dan kesal kepada manusia yang telah membunuh suaminya.  Mulutnya sesumbar, sumpah serapah. Penuh dendam ancaman dalam nanda tembang Durma (merupakan bentuk komposisi tembang jenis macapat biasanya untuk melukiskan perkelahian, perang).

1.   Hẻ manusa ulah sambat kaniaya, awas sing taki-taki, pamales ti kula, ka manusa anu tẻga, hutang pati bayar pati, ieu lawanna Jin Putri Nagri Habsyi.
(Hei, manusia jangan kalian merasa berkuasa, waspadalah kamu akan balas dendamku, kepada manusia yang telah tega, hutang  nyawa bayar nyawa, ini lawan Jin Puteri Habsyi!

2.   Geura tẻmbong anu mana manusana, nu jail hiri dengki, sok ieu ayonan, najan kami sorangan, lain putri ipis burih, acan lugina mun tacan males pati.
(Tampakkan diri, mana manusianya, yang jahil, iri, dengki, ayo lawan aku, biarpun aku sendiri, walau aku seorang wanita tapi aku bukan pengecut, buka penakut, belum tenang jiwaku kalau belum membalas kematian suamiku)

3.  Mun can beunang manusa anu nganiaya ngaharu ganggu salaki, baris dipergasa, kabẻh sakur manusa, tina kami banget nyeri moal narima, arẻk di burak-barik.
(Kalau belum aku dapatkan manusia yang telah membunuh suamiku, akan aku bunuh dia, semua manusia, sakit hatiku tidak terbalaskan, akan aku porak-porandakan).

Dari cerita berdua, Iko (keponakan) dan Nenek, saya tidak percaya sedikitpun apa yang mereka utarakan. Apalagi Iko, bercerita dibarengi dengan tembang, saya lebih menyukai tembangnya daripada ceritanya. Saya anggap Iko ngelindur, karena Iko sangat suka dengan sastra dan tembang sehingga dia mereka-reka, mengarang cerita yang dihubungkan dengan peristiwa saya membunuh ular hitam beberapa hari lalu. Tidak, sama sekali saya tidak percaya. 

Lalu bagaimana cerita Neneknya anak-anak yang juga bercerita dengan isi yang sama? Ah, maklum sudah tua, segala sesuatu dimasukin hati. Ada juga yang menyangka begini: “Panteslah kalau Iko bercanda dan mengarang cerita karena dia ngelindur. Tapi, kan Neneknya anak-anak terlihat bercerita sangat serius. Tidak menunjukkan sedang bercanda sedikit pun. Lagi pula buat apa, orang yang sudah tua mengarang cerita. Hanya buang-buang tenaga. Neneknya anak-anak berkata, dia melihat dan jelas mendengar tangisan dan ratapan sang Puteri yang cantik jelita dalam impian seolah dalam kehidupan nyata. 

Bahkan, saat tuan Puteri menunjukkan kemarahan penuh dendam sambil mengepalkan dan berteriak histeris menantang orang yang telah membunuh suaminya jelas terlihat, dan tidak bisa terlupakan dari ingatannya. Tidak mungkin, orang yang sudah sepuh berdusta. Jelas Nenek bukan ngelindur, bukan mengarang cerita dusta. Karena, Nenek sewaktu akan tidur tidak pernah tidak, pasti berdoa dahulu. Tapi, saya tetap tidak percaya kepada apa yang mereka ceritakan itu. Saya tetap menyangka Iko ngelindur, sedangkan Neneknya karena pikun, jadi mengarang cerita karena mendengar apa yang diutarakan oleh Iko. Apalagi dengan cerita Iko, yang dbarengi tembang Maskumambang dan Durma, saya jadi makin tidak percaya. (BERSAMBUNG)

13.11.2019
DESS

http://jin-islam-keresek.blogspot.com/2019/11/ngamuknya-jin-islam-di-pesantren-keresek.html

Mengamuknya Jin Islam di Keresek (Bagian 2)

Kisah nyata mengamuknya Jin Islam di Keresek yang diceritakan oleh K.H. Hasan Basry (Almarhum) yang merupakan anak kandung dari K.H. Busro Karim (Almarhum) pelaku utama dalam kisah nyata ini. Tulisan asli, diketik manual dalam bahasa Sunda buhun di atas kertas tipis, sayangnya hilang diambil oleh orang yang tidak bertanggung jawab. Untunglah, kisah nyata ini sempat dibukukan, walaupun dalam bentuk dan ukuran yang sangat sederhana. 
Mengingat dokumen ini sangat penting, sebagai bukti adanya mahluk gaib seperti tercantum dalam Al Qur'an dimana sebagai muslim kita wajib untuk mempercayainya. Juga agar bisa dibaca oleh orang banyak, yang mungkin tidak mengerti bahasa Sunda. Saya mencoba mengetik ulang dan menterjemahkan kisah nyata "Jin Islam di Keresek" ini dengan mengadaptasi bahasa dan kondisi sehingga dapat mengikat makna yang seharusnya. 
Dipastikan jauh dari harapan, transliterasi yang dilakukan mengingat bahasa yang dipergunakan dalam naskah bahasa Sunda dengan gaya bahasa yang tinggi. Sehingga, sulit untuk mendapatkan transliterasi yang diharapkan. 
12.11.2019
Awal Bencana
Oleh : HASBA
Kejadiantahun 1939 sampai dengan tahun 1994, dimulai pada malam Kamis, tangga 12 Dzulhijjah 1259.


Keresek terletak di daerah Cibatu, Kabupaten Garut. Siapapun pasti tidak akan tidak tahu dengan Cibatu, sebuah stasiun Kereta Api antara Bandung-Tasikmalaya, persimpangan ke Garut dari Cibatu. Dari stasiun Cibatu lurus ke arah timur sampai pertigaan Kantor Pos. Arah ke Utara melintasi rel kereta api, sampai pasar Cibatu belok ke arah timur. Tampak lagi sebuah pertigaan. Nah, dari pertigaan itu yang ke arah Utara menuju Limbangan. Arah lurus ke Timur, adalah menuju Keresek yang selanjutnya menuju Warung Bandrek dan bertemu dengan jalan propinsi ke Tasikmalaya.

Perlu diketahui, bahwa Keresek adalah sebuah pesantren terkenal di daerah Garut. Menjadi tempat tujuan menuntut ilmu santri dari berbagai tempat yang dekat maupun yang jauh. Jumlah santrinya mencapai ratusan. Mungkin bila alat perekam atau hape sudah meruyak seperti sekarang. Mungkin sekarang saya tidak akan bercerita panjang lebar dengan mengetik cerita lama masa itu, menghabiskan tinta dan kertas. Cukup dengan menekan tombol play pada layar handphone atau tombol play di Chanel YouTube para pembaca tidak usah membaca seperti sekarang. Bahkan, mungkin hanya mendengarkan suara yang diformat MP3 atau MP4 sudah lebih dari cukup. Juga sangat membahagiakan karena suara yang terdengar waktu itu amat sangat merdu. Tidak cukup sekali dua kali mendengarkan suara jin yang membaca ayat suci Al Quran. Suara yang khas dan merdu dengan  qiro'at yang baik, bagus makhrojnya, tepat siddah, panjang pendek bacaannya, idhar idghamnya, apalagi ihfanya. Suasana hati yang mendengarkan seperti terkena buluh perindu, akan terus merindu untuk kembali mendengar suaranya.


Suatu waktu, disaksikan oleh ratusan orang bagaimana merdunya suara "Nyai Siti Qolbuniyyah" yaitu nama jin Islam perempuan tersebut.  Sewaktu khatib selesai turun dari mimbar selepas khutbah Idul Adha. Terdengar lantuna ayat suci Al Quran yang melantunkan Surat Yusuf, terdengar seperti amat dekat dengan telinga. Apatah kehalusan dan beningnya suara yang mengaji bertambah syahdu dengan makhraj dan tajwid serta lagu yang merdu saat membacakan kalimah suci Al Quran. 

Suara terdengar seperti persis di hadapan semua kaum muslimin dan muslimat yang hadir sholat Idul Adha waktu itu. Tak lama berselang kemudian, suara seperti berpindah ke belakang, refleks tubuh dan kepala semua yang hadir waktu itu membalikan badan ke belakang. Mengejar ke arah datangnya suara.

Tak lama kemudia, suara seperti berpindah ke atap mesjid, kepala hadirin serentak mendongak ke atas. Kepala, mata, telinga dan hati seperti tersihir serempak mengikuti arah datangnya suara. Semua seperti dihipnotis, batin diikat menikmati merdunya suara yang mengaji tanpa wujud tersebut, malahan sepertinya tidak ada rasa takut lagi akan kejadian aneh tersebut. Satu hal yang kejadian nyata tersebut bertambah keanehannya adalah pada stiap ayat yang dibacakan selesai pada tiap akhir surat muncul secarik kertas putih dengan paraf S.K. memakai tinta merah japaron. Apa yang menjadikan aneh kejadian tersebut, initial S.K. dengan aksara latin. Merupakan kependekan dari "Siti Kolbuniyyah." Menyimpan parafnya di atas Al Qur'an dimana para jemaah yang hadir ikut memperhatikan bacaannya. Disaksikan dan dibaca oleh semua yang hadir paraf tersebut. Sayangnya, waktu itu saya belum mempunyai kamera, kalau sudah. Mungkin potretnya bisa ditampilkan di dalam buku ini, yang bila tidak melihat bukti nyata mungkin akan menganggap kisah nyata ini hanya bualan semata. Sekali lagi, saya sangat menyesal tidak dapat memberikan bukti dan fakta yang nyata dapat dilihat oleh mata kepala para pembaca. Mungkin saya tidak akan cape-cape mengetik dan menceritakan ini seperti sekarang, cukup membuka album atau folder di laptop atau di handphone, memperlihatkan kebenaran kisah ini.

Pengalaman yang diceritakan di atas adalah cuplikan yang diambil dari tengah-tengah kejadian, asal mula munculnya keanehan dan gangguan suara jin yang terdengar selesai sholat Idul Adha tersebut adalah sebagai berikut:

Dosa yang saya lakukan rasanya sepele. Suatu hari saya iseng. Ah, bukan iseng juga, siapa orangnya yang tidak akan melakukan apa yang saya lakukan. Bila melihat seekor ular melintas, melata ke dalam rumah, atau ke tempat-tempat yang tidak semestinya yang bukan habitat ular yaitu tempat tinggal manusia. Ular yang melintas dan melata tersebut adalah ular hitam. Karena merasa jijik,dan merasa takut digigit ular tersebut. "Buk!" Ular tersebut saya pukul. Sekali pukul, tepat mengenai kepala ular itu. Tidak heran ular itu langsung mati seketika, dengan kepal pecah. Karena tongkat yang dipakai pemukul adalah besi bekas kaki ranjang. Tidak perlu dipukul dua kali, ular tersebut langsung tidak bergerak. Bangkai ular tersebut dengan tongkat yang sama, diangkat kemudian dibuang jauh ke belakang rumah.

Keesokan harinya, Hasan dan Husen, dua anak lelaki saya bermimpi dengan impian yang sama.
Impiannya seperti sudah disepakati. Mereka bermimpi, melihat mayat lelaki yang terbujur kaku dengan kepala yang dibalut perban putih yang berlumuran darah! Di samping mayat lelaki itu, tampak seorang perempuan cantik, memakai gaun pengantin ala pengantin Eropa. Padahal, katanya itu adalah pakaian pengantin khas puteri Mesir. Rok putih panjang menutupi seluruh tubuhnya. Putih dengan riasan permata yang berkelap-kelip terkena cahaya matahari. Kulit mukanya putih mulus dengan riasan muka yang sangat apik.

Kerudung menutupi sebelah mukanya, sedangkan kerudung yang sebelah lagi dia gunakan untuk melap air mata yang tidak henti mengalir dari matanya. Pipinya yang sedikit tampak tirus, tampak jelas menyiratkan kecantikan tanpa batas, berurai air mata. Matanya jeli dengan alis tebal alami dan lentik bila mata yang menambah kecantikan wajah Puteri itu. Dagunya lancip dengan bibir tipis merah delima alami tanpa pulas buatan. Jari jemarinya yang lentik, sesekali menyusuti air mata yang tidak henti mengalir dari kedua buah matanya. Tubuhnya tampak tinggi langsing berbalut kulit yang kuning langsat, sesekali berguncang menahan tangisannya. Putri itu sesenggukan tidak berhenti. Gaun pengantin putih yang menempel di tubuhnya, menambah rupawan wajah cantik sang putri.

Ternyata, konon putri cantik yang sedang berduka lara itu adalah pengantin baru, dia menangis kematian tragis suaminya, yaitu mayat yang terbujur kaku di hadapannya. Mereka adalah sepasang pengantin baru yang sedang berbulan madu. Menumpahkan rasa sayang, cinta dan kasih suci mereka berdua. Tidak ingin dipisahkan oleh apapun, bahkan mungkin hanya maut yang bisa memisahkan mereka. Tuhan berkehendaknlain, sang suami tercinta yang baru menikahi dirinya malah dijemput maut mendahuluinya. Puteri yang cantik jelita itu menundukkan kepala, dengan tangisan menyayat hati tak henti karena harus berpisah dengan kekasih hati. Menangisi kepergian buah hati yang didambakan, saat mereka telah berpadu dalam rindu, bersenyawa dalam jiwa. Mereka malah harus terpisahkan dalam sekejap. (Bersambung).

Friday, September 11, 2015

Leungit Diiwat Dedemit (3)

Ku: HASBA


Cara nu enggeus-enggeus datang dibagèakeun bangun nu sono cara ka nu lawas teu patepung. Gok amprok pipina disun, kitu hormatna urang Arab, karasa gètèk, kumis jeung janggot nu kandel antel kana pipi.  Pangawakannana jangkung gedè, pakulitan hideung lestreng jiga birit sèèng, sok inget ka Si Mulut Besar Muhammad Ali jago tinju.

Di Habsyi manèhna papanggih jeung babaturannana pada-pada urang Garut Atèng ngaranna tèh urang Kadungora Leles nu satuluyna jadi sobat dalit teu pernah pukah. Ngan di Habsyi rada lila, di dieu kungsi milu solat Jumaahan jeung solat Idul Fitri. Dina maleman walilat ramè ku sora mariem, manèhnna jadi inget ka lembur keur nyeungeut lodong karbit nu dijieun tina tangkal paku, sorana ngageleger mungguh eundeur kadèngè ka lebak.  Sora dulag ngadurugdug dipirig ku sora takbir di masigit, barudak pantar-pantar manèhna sirig parebut opieun, aya wajit, ranginang, awug sampeu, bayatak dina samak teu kadahar.  Manèhna keur ngalanglangbuana ngacacang di mancanagara, ngambah nagara nu can kungsi katincak, malah teu ngimpi-ngimpi acan bakal nincak nagri Yaman, Habsyi.  Ka Nagri Habsyi manèhna ukur apal ngaran lantaran mindeng disebut-sebut dina carita “Jin Islam di Kèrèsèk” yèn Siti Qolbuniyyah tèh urang Habsyi, malah waktu suratna jang Kang Ajengan oge dina ahir suratna sok ditungtungan ku ngaran jelasna “Siti Qolbuniyyah Al Habsyiyah”.
Di antara nagara-nagara nu kasaba ku manèhna aya nu ngaran Iliya, tapi naha bener èta tèh aya nagara nu ngaran Iliya di tatar Arab? Atawa sakadar nagara ciciptaan, manèhna teu sempet maluruh, pernahna ti Habsyi kamana, nya kitu deui teu apal lebah-lebahna, ngan nu ka alaman harita, karamean jeung kaèndahan nagri dongeng riwayat Sahrul-jad dina”Alpulaila” carita teu tamat-tamat manggih kaahengan.

Di Ilya gukgok jeung bangsa awak pada-pada urang Priangan aya nu ngaku ti Tasimalaya, ti Majalaya, jeung ti daèrah-daèrah sejenna tur kabèhanana sapantaran keur mareujeuhna lalenggger, atuh poho ulin poho ngobrol tukeur pangalaman masing-masing aya nu nyarita geus tilu taun aya di Iliya dimèmènak ku pribumi, aya nu geus kangen ka lembur matuh banjar karangpamidangan, da di didieu mah dibetah-betah ogè lain lemah cai, ngan jalan keur balik teu apal.  Mun bèbèja kanu dianjrekan sok gancanag dibèbènjokeun ngarah poho ka balik
“Lain ngalèlèwè, puguh kuring ogè kitu pisan,” Ceuk Atèng budak anu ti Kadungora tèa. Guntreng nepi ka poho ka waktu.  Keur mah kitu ilaharna di pangumbaraan mun panggih jeung nu wawuh sumawonna dulur, najan baraya anggang atawa tatangga sok jadi baraya pada ngarasa sanasib jeung silih pihapèkeun.

Gering Hayang Balik.
Tengah peuting jumplang-jempling, ukur sèahna sora angin kadèngè di luar nebak hordèng nyilisib tina èrang-èrang jandela, pasien nu sèjena geus talibra sararè, Atèng nu ngabaturan ngemitan manèhna ngadengkur kèrèk. Di luar teu kadèngè sora tinggalesrukna sapatu perawat nujaga peuting. Kawasna mah ditekuk ku teluh tunduh.  Manèhna nyileuk sorangan ngahèrang ngumbar lamunan, dipeureum-peureum teu daèk reup, sakalieun ngalenyap beunta deui kaganggu ku batuk.

Alèp geus tilu poè diopname kaserang panyakit panas, hatèna ting sareblak ngadak-ngadak inget ka lembur, kabèh narèmbongan, indungna asa dina juru panon dipapantes keur ngalangeu ngadagoan nu jadi anak teu embol-embol.  Kacipta kumaha leungiteunnana Kang Ajengan, geus aya bulanna manèhna ningglkeun pasantrèn teu beja teu carita, sumawonna pupulih rèk ingkah jauh. Naha aing kamalinaan nganteur kahayang, antukna kadungsang-dungsang.  Ras inget kana obrolan batur-baturna nu kangen geus harayang balik ngan teu nyaho di jalan keur lolos, boa keur sorangan ogè moal beda ti kitu. Cukleuk leuweuk-cukleuk lamping jauh ka sintung kalapa.

Manèhna ngusap beungeut bari istigfar babacaan sabisa-bisa, keur kitu ngong aya sora tan katingalan nongtorèng kana ceulina.  Anaking Alèp! Deudeuh teuing hidep kadungsang-dungsang aya di alam bandawasa nu kasohor tempat sileman-siluman. Gancang nyingkah ti ieu tempat, moal lila deui ieu sarakan sètan jin marakayangan bakal diancurkeun!”

Korejat manèhna cengkat, simbut ditèjèh ka tunjangeun, panon rurat-rèrèt ka sakurilingna kamar pasien, hatèna keueung tingpuringkak bulu punduk. Manèhna turun tina ranjang leumpang ngeteyep bari jèjèngkèan, nyingkabkeun hordèng rèk nènjo nu jaga aringgis aya nu masih hudang nagenan manèhna lolos.

Barang rèt ka kamar perawat, ngegebeg sataker kebek, awakna rampohpoy teu kaduga ngalèngkah, untung teu ngajerit nènjo nu sarèrèt ranggètèng sarihungan.  Horèng nu unggal poè ka manèhna ngaladenan somèah baru garumeulis tèh jurig wungkul, badis buta ti Tolong Tèlèngan.

Manèhna ngarayap ngadeukeutan ranjang Atèng nu keur ngageubra sarè, jung maksakeun nangtung, ragamang leungeuna kana beungeut Atèng, irungna dipengkèk, gurubug nu sar hudang. Barang rèk ngagorowok, gancang dibekem ku leungeunna nu sabeulah deui, tuluy ngaharèwos ditompokeun kana ceulina. Sanajan bari lulungu teu burung nuturukeun, kalacat naraèk kana jandèla jlung-jleng muru lawang dora nu katukang.  Duaan tingarungkug dinu poèk kuliwed kaan pager, blos maloncor ka luar. Blang hatè bungangang, sakedikna geus leupas tina panalingaan nu jaga. Kumaha pilakueun satuluryna, maraèehna poèkeun teu nyaho jalan, da satadina ogè aya nu mawa nya èta tuan Sèh Hasan marengan ti pendopo Garut kènèh, jin nu mindarupa jadi haji, ayeuna mah bororaah hayang panggih , malah èta pisan nu ngiwat ka manèhna, sangsara kadungsang-dungsang.

Sang Surya meletèk ti beulah wètan nyaangan k sabuana alam, dipapag ku kabungah sugrining ku kumelip, manuk rècèt disarada patèmbalan monyet jeung owa tingkocèak arotèl, kasintu jeung lutung milu nimbrung, cangèhgar ngèar mawa hègar, mapag Sang Surya nu karèk medal.

Kuniang duanana harudang bari gigisik, awakna nyarampay dina akar ki Hiyang di mumunggang gunung Wayang bawahan Bandung. Awak karasa nahnay bakating ku capè, peujit murilit mènta dieusi, kantong ganèfo hadèna kabawa, mun teu salah asa kungsi nyumputkeun dahareun basa di restoran di Iliya buah apel jeung kueh teu didahar da geus wareg.Tapi barang dikodok kacabak ngeprul aya ogè tu teuas ari disidikkeun horèng taneuh jeung batu. Kasebelan aing cacamuilan ngadaharan taneuh jeung ngagorogotan batu. Batu jeung taneuh diudulkeun tina kantong Ganèfo.

Duaan nuluykeun lalampahan mapay-mapay jalan satapak sakira aya ledeg-ledeg keur jalan tincakeun, leumpang tirampeol siga kalakay ka tebak angin. Mun pareng manggih solokan ting rarandeg ngadon ngarinum heula ngaleungitkeun heula hanaang, diselang ku dahar bongborosan supaya aya tanaga keur neruskeun lalampahan.  Kitu jeung kitu baè lalakon aya mingguna turun gunung unggah gunung, mipir pasir mapay lebak atawa jurang bari kukurubutan dina leuweung saliara, awak barèd teu dirasa da hayang geura nepi, golodog imah asa geus  nampeu hareupeun, kasawang nu marapgkeun cara nu tas mulang ti Mekah, boa ketang geus dilapurkeun.

Gancaning carita jauh hamo burung cunduk, anggang hamo burung datang, maranèhna geus cunduk ka cipanas wewengkon Wanakerta Kacamatan Cibatu, kari dua kilometer deui ka pasantrèn Kèrèsèk. Tuluy motong jalan anu brasna ka lembur Nyalindung. Geus katinggal monclotna astana aPasirttataman pangjarahan barudak santri unggal poè jumaah sok naladran ka pakuburan Almarhum Kiyai Haji Ahmad Nahrowi pupuhu pasantrèn Kèrèsèk nu munggaran. Anjog ka astana Pasirtataman di lembur Sumurkondang, galantang manèhna macakeun  tahlil. Atèng milu ngahaminan, lelembutan asa ngarumpul, balik deui pangacian. Ti dinya mentang jalanna ngaliwatan kampung Loji naèk kaPasir Cibodas bras kaBabakan Cau , kuliwed ka pipireun pabrik aci bogana Haji Junaèdi. Di dinya Alèp pisah jeun g Atèng, Najan diaku diajak nyimpang, Atèng keukeuh rèk nuluykeun lalampahanana ka Jogya. Sedengkeun Alèp rèk terus mudun ka Psansatrèn Kèrèsèk , harita tèh kira wanci sareupna.

Ti pabrik aci mapay solokan bras ka astana Pasir goong, tuluy turun kana dapuran awi nu aya peuntaseun walungan Cipacing.Cinutrung di dinya ngadagoan poèk, aya rasa anèh nunyangkaruk dina dirina. Mun tadi hayang geura gok, naha ayeuna bet mandeg-mayong sieun euweuh nu  ngaku.
Kira wanci Isa manehna meuntas walungan Cipacing nu  ngawates wewengkon pasantrèn jeung pilemburan, leumpang culang-cileung sieun panggih jeung jelema, barang nepi ka pipireun imah Ajengan, amprok jeung Uwoh b abaturanana ngèlèk kitab rèk ngaji, gabrug ku manèhna dirontok tuluy dicekèk sarta diancam ulah rèk loba bèja, lamun hayang salamet sarèrèa. Gancang manèhna naèk ka para ngaliwatan palapon juru imah Ajengan, ngadon nyangkèrè sare nepi ka isuk. Beurangna manèhna rèk turun kanyahoan aya nu naèk, nyaèta Mamat titahan Ajengan rek menerkeun kentèng lantaran bocor waktu  hujan nyurulung ka tengah imah. Teu antaparah gabrug Mamat dirontok cara k Uwoh tadi teu beda ucing ngarontok beurit, gebut meubeutkeun manèh bareng jeung gubragna Mamat ti para.

“Kitu tah barudak, dulur-dulur, lalakon Kai Alèp salila tilu bulan dibawa siluman tèh!” Ajengan mungkas riwayat budak leungit diiwat dedemit. “Goyatul amri amni ‘ajazatu, wallohu a’lam”. (TAMAT)

Sunday, August 30, 2015

Leungit Diiwat Dedemit (2)

Ku : HASBA



Nyawang kaanggangna girangeun lemburna aya pasir monclot nu katelah “Ragahiyang” cènah, di dinya tèh aya makam Sunan masih tètèsan ti Sunan Cipancar nu aya di Limbangan, ngahiyang di èta lembur, nepi ka ayeuna nelah “Ragahiyang” tina asal kecap “raga” ngahiyang nyaèta ngaleungit.  “Moal kitu aing ogè cara Sunan Ragahiyang?” ceuk pikir manèhna ngarasa reueus, ajian geus kataèkan.  Tuluy nadahkeun leungeun ka langit bari nyanghareup ngulon katinggal di lembur mayakpak ancal-ancalan.  Kacipta pasantrèn Kèrèsèk lebah-lebahna baranang ku sinar listrik.  Manèhna ngusap beungeut, ari brèh manèhna beunta nyampak geus aya di handapeun tangkal jambu aèr hareupeun bumi Ajengan.  Di bak masigit tingkocowak sora santri keur warudhu.  Di masigit sahèng sada gaang,ku nu keur tadarusan Qur’an.
Kitu biasana kahirupan di pasantrèn beurang peuting teu aya reureuhna, ngageder ku nu ngaji atawa mudakarah kitab di barengan jeung sempal guyon.  Korèlèng manèhna asup ka dapur, kasampak Mamat keur ngasur-ngasur suluh ngahaneutkeun sangu keur sahur, manèhna milu siduru. Teu kungsi lila kulutrak Nyi Ajengan nyampeurkeun Mamat, ampir ngadupak irung manèhna.  Malah ngupat manèhna nyaritakeun, “Ka mana Mat ari Si Alèp teu katempo-tempo?” Manèhna geus hayang ngajleng-ngajleng baè rèk ngabekem sungut si Mamat, sok sieun buka rusiah yèn manèhna keur ngamalkeun wiridan.  Tapi ras deui sok sieun ngabarubahkeun Si Mamat ngajerit aya nu ngabekem teu puguh jirimna. Ajengan teu ngarasa leungiteun da waktu ngaji karèrèt aya milu.
Harita poè Salasa tanggal 22 bulan Romodon, barudak santri obyag ti janari kènèh rèk arindit ka Garut mur karèta api “Jim Wèst” atawan kuik, nu pangsubuhna miangna ti Cibatu rèk milu jajap Bi Empèh indung-indungan santri, kabiruyungan aya nasib jarah ka Mekah. Di jalan ngaguruh ku nu maca barjanji dipirig ku soran genjring”
Tolaal badrualaina
Ma da-al lillahi Da’i
Ayyuhal Mab-us sufina
Ji’tabil amril muto’i

Urang lembur tamplok ka jalan pada hayang nongton nu rèk miang ziarah ka Mekah.  Katambah kahudangkeun ku sora nu halimpu nu mingpin maca barjanji, kabèh geus apaleun ka anu boga sora moal teu bentang panapan Nyimas Nurjanah nu rancunit putra Ajengan, ku payus geus geulis ngeunah sorana.
Sok mindeng barudak santri ngintip di kolong, ngadèngèkeun galindengna sora Nyi Udrol carita romantis dina kitab Hudori. Sakalieun Nyimas keur tadarusan di kamarna. Merenah dina gunahna, keuna dina ihfa jeung idhomna nurutkeun èlmu tajwid.

Sapaparat jalan liliwateun sung-song nu marunjungan ka Bi Empèh nyarium tangan, nu bari rawah riwih baè aya, sasat nu ka Mekah mah dagang nyawa aringgis teu papanggih deui meureun. Di setasion kareta api ngaliud ku nu jajap, nya nu terus naèk rèk nganteurkeun nepi ka Garut, aya ogè nu pamit bari tamada ngan bisa jajap nepi ka stasion Cibatu.

Teu kungsi lila bèl kareta api distasion disada mèrè tangara yèn moal lila deui kareta api rek miang, panumpang ting kalacat unggah, nya kitu deui rombonganjamaah nu rèk ka Mekah.  Gerbong èta mah teu kaselapan panumpang nun sèjèn, pinuh ku kadang wargi Bi Empèh jeung santri.  Nu baradagna saperti Mang Makin, Mang Usèn Lurah Santri, Dèn Totoh nu hayangeun ka Nyimas Nurjanah, duka teuing ari jinisna mah, kaasup cau ambon dikorangan kanyèrè ka pipir-pipir, nu hayangeun sapantar jeung manèhna Ijudin orang Sukabumi si Borohol, Uwoh jeung Sirod, Endang Chèpron ti Cileunyi nu ngomongna siga ngolomoh ès bonbon jeung rea-rea deui.

Pluit panjang disada, karèta api ngageleser lalaunan ninggalkeun setasion Cibatu. Di luar tinggarupay ku saputangan bari sakapeung dipakè nyusutan beungeut  nu rambisak, palebah tanjakan Wanakerta karèta jalanna ngarayap. Gujesss! Gujesss! Siga nu kaserang panyakit ashma, nangenkeun geus kolot dihakan waktu, ninggal titimangsa jieunan ti pabrikna aya nu geus puluhan taun.
Kondèktur mapay mulutan karcis rèk diguntingan. Alèp biwirna ngagerenyem sigana keur mapatkeun ajian, aji halimunan da èta sakitu kondektur pagiling gisik jeung manèhna, molotot siga mata peda teu nènjoeun ka manèhna pon kitu deui di lawang pèron manèhna labas taya nu nanya nu nakon, tug nepi ka lawang pandopo kabupatèn, Kapan batur mah tong boro asup ka pendopo, deukeut ka lawang ogè geus di usir ku patugas ari lain makè tanda panitia mah na dadana.

Dio jero pendopo manèhna olohok keur mah euweuh nu wawuh ari lain Bi Empèh mah, ngan pajauh da dipisahkeun jamaah awèwè jeung jamaah lalaki, katurug-turug loba tempoeun, ma’lum saumur dumèah kakara harita nincak pendopo.  Keur anteng ngalamun lantaran teu aya batur ngobrol, ujug-ujug aya nu nyampeurkeun hiji lalaki paroman urang Arab pakèanana sing sarwa bodas. Ketu haji dibeulit ku sorban, jubah bodas, leungeunna teu lèsot ti tasbè terus dikucel teu eureun-eureun. Ieu tèh nu sok disebut “Sèh” tèa meureun tukang ngurus jamaah haji, ceuk dina hatèna. Leuh mun manèhna ngajakan aing ka Mekah, ah rèk daèk baè.
Dijieun hodamna ogè kadar bisa jarah ka Mekah asal ulah dijieun abid, bejana sok dijual sagala. Èyyy...  bararaid boga keneh kolot nu ngurus.

Èta tuan tèh ka manèhna ngenalkeun ngaranna Hasan. Ka ngaran manèhna geus apaleun, malah harita ogè ujug-ujug miheulaan nanya, ”Alèp, lain rèk ka Bandung nepungan Bibi tèa?”Aèh-aèh bisa neguh hatè uing, ceuk pikirna. Da kasasaha ogè tacan betus, bener èta ari ngajamna mah ngan mandeg-mayong Èra teu boga baju alus jang nyanyabaan.

Keur kitu taktakna ditepak, “Tong sok noong ka kolong, dunya teu sadaun kelor. Tuh tanggah!” nyaritana kitu tèh bari nunjuk kaluareun pendopo. Manehna ngagugu, ana brèh tèh kota Garut salin rupa, agrèng leuwih tisasari. Manèhna ngiclik nuturkeun siga kebo dituntun tendokna dibawa jalan-jalan mapay toko. Waktu asup ka toko kaèn manèhna dititah milih kaèn pibajueun, “Pèk milih hayang nu kumaha?” Atuh manèhna tambah kapiasem sagala kabitur. Sanggeus cop jeung hate kaèn sasateleun calana pantalon jeung baju dibungkus diasongkeun ka manèhna. Teu werat nganuhunkeun.  Tikoro asa beurat kapeungpeukan ku cipanon bakating ku atoh. Sanggeus ditampanan diasupkeun kana tas Ganèfo wadah salin nu teu lèsot ti tadi, ayeuna manehna geus aya deui di pendopo.

Sakedèt nètra naon nu diciptakeun harita aya hareupeun kadaharan anu ngareunah kari kop aya buah, apel, jeruk Garut, kuèh-kuèh, malah korma pisan geus nyampak kari am.
Kaputeun tèa ku manèhna disesep-sesep kana bujureun. Na hatèna aya kereteg mun ditunda dina salon rèk diselapkeun dina handapeun kentèng.  Naha bet karagap dina pangdiukan aya kentèng. Asa di sawarga mun enggeus mah, bejana ceuk nini ari nyiaran bari marèndè sok ngagelendut ngadongèng, jaga di sawarga teu kudu hèsè cara ayeuna hayang lahang kudu nyadap heula, hayang dahar kudu daèk nyangu heula. Asal dicipta hayang bakakak hayam jol hareupeun, kitu sasauranana nini bari ngusapan sirahna bangun deudeuh ka nu jadi incu, ayeuna aya gantina nini nu nyaah ka awak nyaèta Tuan Sèh malah leuwih, sabab lain ukur dongèng ieu mah nyata jeung sokna, ngan manehna teu werat tatanya.

Kana ceulina ngèng aya sora tan katingalan pokna,”Bandung!” hatèna makè mèrèan hayang ka Bandung, jleg manèhna geus aya di hareupeun imah bibina di Gang Pamarset Bandung. Teu ngadagoan panto dibuka manèhna geus aya di jero.  Bibina keur ngusek masak nyampakeun Emangna meureun, nu moal lila deui balik ti kantor. Bibina harè-harè teu malirè kanu anyar datang. Padahal bibina biasana sok galèhgèh ngabagèakeun. Barudak palaputra bibina can daratang ti sakola, tapi manèhna teu ngadagoan daratangna barudak jeung emangna, gancang kaluar ti imah geus karuhan bibina teu ngaku mah.

Keur bingung lantaran ka Bandung ngadon kapahing, ngèng deui aya sora, “Yaman! Yaman!” hatènan mèrèan nyaho pangalaman. Jleg manèhna geus di nagara Yaman. Nagara keusik satungtung deuleu. Adegan-adegan wawangunan jarangkung ngajul langit taya aling-aling, jalan-jalan but bet dina sampalan keusik siga urut leumpang undur-undur, aya jalan nu kènca katuhueunnana dipager ku tangkal keur meuhpeuy bubuah ruruntuyan kawas buah caruluk.

Eta jalan brasna ka istana raja Yaman. Manèhna dibawa ka dinya dibarengan ku tuan  Sèh tèa.  Hulubalang nu samakta ku pakarang dina pakèan kadinesan cara gambar  Aladin ngahormat ka manèhna. Sup ka jero istana, panon molotot teu ngiceup mata simeuteun nyaksian kaèndahan gedong katut pangeusina.  Di balairung kabeneran keur aya gempungan para gegedèn katut pangagung, nu laladèn istri-istri pinilih, tiburicak ku rarangkèn ratna mutu manikam.  Ka manèhna loba anu ngabagèakeun najan kakara panggih siga nu geus waranoh, malah nyaraho ka ngaran-ngaran. Hatèna ngalenyap waktu ditanya ku nu gareulis, jajatung asa coplok, saumur kakara ditanya ku nu geulis, seungitna parfum ngadupak kana irung nambahan geumpeur, samar rampa teu puguh cabak. Ieu meureun nu sok digambarkeun ku Ajengan dina syair Arab anu kieu unina:

Hawaya ma’arrokbil yamanina mus’idu
Hatè tibelat kanugeulis urang Yaman
Kelèt socana nu matak nyèrèdèt
Jung nangtung mileuleuyankeun
Ku Iklas ninggalkeun diri
Nu kantun katrèsna ati

Hanjakan manèhna teu bisa lila di nagri Yaman, lantaran ngalanglang buana can tuntas, ngeng deui kadèngè sora nu manèhna geus apal sora pangajak hatèna. “Habsyi! Habsyi!”, kawas kernèt nyiar muatan sakiceup manèhna geus aya di nagri Habsyi! (HANCA!)



Monday, August 24, 2015

Leungit Diiwat Dedemit

Ku; HASBA


Leungitna santri nu ngaran Alèp jadi sabiwir hiji.  Alatan leungit demit teu puguh laratanana. Keur kolot-kolot nu boga anak lalaki pantaranana pada ngarasa risi kaleungitan anak.  Lantaran ceuk beja pabeja-beja nyebar jadi carita balaraèa, Majar Alèp dijieun wadal ku jin Islam nu kungsi ngaheureuyan aya taunna di Pasantrèn Kèrèsèk bongan salakina Nyi Siti Kolbuniyah dipaèhan waktu mindah rupa jadi oray.
Kolotna geus ber kaditu ber kadieu, baraya nu anggang ditèang, dulur nu singkur dijugjug sugan aya lunta lanto geus tatanya ka ahlina ngalèr ngidul boh ka tukang matangankeun, ka ajengan ahli hikmat, budak welèh teu kapanggih najan kabèh tarèkah geus diketrukeun. Bapana pasrah kana kadar da kurang kumaha ikhtiar mah, tapi teu kitu anu jadi indung mah, awakna geus begang igana norelak lir gambang kuru akin ngajangjawing balas mikiran anak, mun maot dimana bugangna ngarah puguh mulasara, mun hirup dimana dumukna ngarah puguh nyusulna, indungna gawèna tirakat jeung midangdam.
Pon kitu keur nu kanjrekanana Ajengan Kèrèsèk ku leungitna èta budak ti pasantrèn asa katempuhan sasat kolotna mah geus masrahakeun sagala rupana, ceuk babasan ti luhur sausap rambut ti handap sahibas dampal bagja cilaka kumaha kersa Ajengan ayeuna nyata pisan èta budak leungit keur dina cangkinanana malah Alèp mah tara dipondok hèèsna ogè cara lumrahna santri, tapi diperenahkeun dipawon deukeut dapur dipangnyieunkeun salon tina awi. Lantaran kapakè kana ngahodaman Ajengan, dibaturan ku batur salemburna Si Mamat bèjana mah kapialona.
Kang Ajengan, kitu ngabasakeunana barudak santri ka guru ngajina. Nyai atawa Nyi Ajengan geus bèak dèngkak milu ihtiar nèangan budak leungit ka suklakna ka siklukna.  Santri disebar sina nyusud raratan.  Bèja gancang tepina lantara alumni Pasantrèn Kèrèsèk sumebar aya di satatar Priangan malah nu luar jawa ogè aya, saperti di Lampung jaba ti ngajurung jelema, ku RRI Bandung teu kaliwat sababaraha kali disiarkeun.
Barudak santri nu araya di pondok teu cicingeun  ku pokal lurahna dibagi tugas aya kabagian solat hajat, aya nu kabagian ngaji Yasin diberjamaahkeun meunang opat puluh balikan, tapi nu leungit lebeng teu aya bèjana geus aya bulanna,  Harita basa leungit tèh bulan Puasa ayeuna geus nincak bulan Rayagung malah ampir kapohohohokeun katungkul ku kasibukan sèwang-sewangan.  Manusa darma rucita Allah nu nangtukeun sagala-galana.
Hiji mangsa kira wanci pecat sawèd, poè haleungheum ku pihujaneun hawa karasa bayeungyang, teu kungsi lila breg hujan turun siga nu cicicikeun, nu boga  popoèan gancang  jajait.  Ajengan nu keur aya di patengahan ngagentraan hodamna, Mamat.  “Mamat! Mamat! Ka dieu, euy!” nu digeroan tuturubun turun tina salon nyampeurkeun bari rengkuh, “Aya naon, Kang?”
Ajengan nunjuk ka para bari tanggah, “Kentèng bocor meureun, euy! Ieu geuningan hujan milu ngiuhan ka tengah imah,” Ajengan tèa resep ngabojèg, keur ngaji ogè tara ngarasa tunduh atawa bosen da sok diselang ku dongèng nu pikalucueun.  Mamat ngarti, teu talangkè gancang saged rèk naèk para menerkeun kentèng nu bocor.  Sarung dibeubeurkeun kana  calana “nasaup” mun ceuk urang lembur mah calana “sontog” ka handap sieun ku cacing kaluhur sieun ku gelap.
Kalcat nècè kana palang dada, gurawil ngarawel pamikul sup kana tiang para nu aya luhureun pawon.  Naha atuh kira sapanyeupanan, gebut sada nangka murag ninggal palupuh, imah munggah ngarieg siga kaoyagkeun lini. Kang Ajengan muru tibuburanjat, muru sora nu ngagubrag ti pawon geus moal teu Si Mamat tibeubeut ti para.  Nyi Ajengan garo singsat bari rawah riwih ma’lum awèwè.  Kasampak di pawon Mamat keur calangap teu usik teu malik, lètahna ngèlèl, panon bolotot siga domba kacekèk.  Kang Ajengan ngajanteng hareugeueun. Rumpang-reumpeung teu puguh cagap. Kop kana cungkir keleweng dibalangkeun keuna ka Nyi Ajengan meneran kana imbitna, ngagoak da puguh cungkir beusi, naha atuh bet kop kana cungkir.  Maksud mah ngarongkong nyokot gayung rek nyiuk cai tina gentong keur ngabanjur anu kapihuhan.
Mamat ngajehjer teu empès-empès, Ajengan mapatkeun ajian, jampè pamakè, parancah panyingkir, sètan marakayangan. Karèrèt dihareupeun nu keur kalenger aya mahluk pikagilaeun buukna ngarewig jiga bebegig, ramona rangoas ku kuku nu kawas ny rèk ngerekeb, budak nu teu usik malik.  Sagala wewesèn diketrukeun hatè ngajerit manteng ka nu murbeng alam.  “Naha manusa anu dimulyakeun ku Alloh makè kudu èlèh jajatèn ku sètan, jin jeung jurig nyiliwuri”.  Dadak sakala mahluk tèa ngarumpuyuk, ngalumbuk lir simbut nambru. Nyampeurkeun. Ajengan taki-taki pasang kuda-kuda bari hatè rada mangsar-mingsir, gabrug ngarontok dampal suku Ajengan.  Barang dikejetkeun, mahluk anèh tèa tanggah, naha atuh ana gebeg tèh Ajengan reuwas lain meumeueusan, ayeuna Ajengan nu calangap ngagero bari ngabales nu ngagabrug dirontok terus digubag-gabig, “Alèp! Alèp! Ieu tèh Alèp?!!!” Tapi budak nu tadi disangka mahluk tèh ngabigeu teu bisa ngajawab, katingal awakna rampohpoy siga kapuk kaibunan teu aya tangan pangawasa.
Nyaina dipiwarang ngabantun cai asak hèrang tina kendi, nu tara tebih tina kulit domba pangcalikan ajengan ari motalaah kitab. Teu kungsi lila Nyain nanggeuh gelas eusi cai kendi disanggakeun dido’aan, geus kitu diinumkeun. Dikersakeun siga gula ka tètèsan apu, bèak cai diinumkeun, nyah budak tèh beunta panonna gular-giler bangun nu rek locot tina kongkolakna tina bakating ku celong jeung haropak. Gaur manèhna ceurik sigana kakara sadar.  Mamat ogè usik tuluy ngulisik nyah deui beunta. Barang inget hudang tibuburanjat ngagorowok, “Sieun! Sieun! Aya nu ngarontok di para, halaaaahhh nyekèk!”
Sakeudeung ogè imah Ajengan geus pinuh ku nu ngalayad bari pada pansaran harayang nyaho lalakona jeung panggih ka jinisna nu ngiles aya bulanna.  Barudak santri teu kaampeuh maksa asup pasedek-sedek, tatangga nu deukeut pon pilalagi teu beunang diperesabenan, imah Ajengan ngadadak didadagelan ti handap bisi ngaborobot darurung tètèrèktèkan.  Ajengan kapaksa nangtung biantara, “Assalamu’alaikum waromatullohi wabarokatuh!”
“Waalaikum salam warohmatullohi wabarokatuh!” Jawab nu haladir rèang narembalan kana salam ti Ajengan.
“Para wargi jeung barudak santri, tangtu aranjeun panasaran hayangnyaraho dongèngna Kai Alèp, ngan milik jinisna sakumaha nu kasaksèn ku sarèrèa awak rangkèbong panong carelong, tanaga teu aya, malah can wasa nyarita, ku kituna dipènta ridona ti sarèrèa ninggalkeun ieu tempat mèrè kasempetan ka Kai Alèp. Sina istirahat, ku kuring rèk diwarat heula.  Insya Allah dimana manèhna geus pulih deui, lelembutanana geus kumpul balik pangacian, rèk ditanya lalakon jeung pangalamanana salila dipanyabaan sarta bakal dicaritakeun deui ka aranjeun.  Tah, sakitu pamènta ti kuring. Wasalam.”
Jelema narungtutan marulang, najan teu welèh pansaaran tapi ngaragangan ka Ajengan. 
Awal Kajadian
Dina bulan Puasa, hanca pangajian barudak santri nu sok disebut “balagan”, kitabna sok diganti ku kitab nu sakira tamat sabulan puasaeun mun di sakola mah èkstra kurikulum mun ayeuna mah “pasantrèn kilat” atawa “pasaran” ngan harita mah can mantra-mantra aya istilah  tèh, sabab unggal lembaga pendidikan boga udagan atawa targèt kurikulum kaasup pondok pasantrèn, ku kituna asa teu merenah lamun pasantrèn dikilatkeun atawa di “pasarkeun”.
Dina taun 1962 balagan ngaji bulan Puasa sakumaha biasa, kitab nu diaji sok gunta-ganti nurutkeun kumaha pamènta barudak santri, harita nu diaji tèh kitab “Istikoq”.  Ajengan di masigit di lingkung ku santri-santri, rupa-rupa pamolahna aya nu ngadepong, aya nu nyanghunjar lambar, kumaha ngeunahna, bèda ti biasa, pangajian bulan puasa katingalna “santai” mun cèk barudak ayeuna mah, tegesna teu diburu-buru ku waktu, pokna ogè itung-itung ngabeubeurang atawa ngabuburit da ngaji tèh sok dua waktu , mun teu sabada solat Subuh sabada solat lohor.
Tamba nundutan selang-selang nerangken tujuan kalimah demi kalimah, diseling ku pèpèling pangèling nyutat tina sair-sair Arab saperti kieu:
Ulah ngahinakeun maneh ka jalma leutik
Rametuk bisa ngaluarkeun getih, singa jadi perlaya
Geus boga bekel naon maneh di dunya
Teu nyaho hirup katungkul ku pati
Bekel takwa nu kabawa jaga
Dimana reup peuting naha hirup bakal nepi ka pajar
Teu seutik jalma jagjag waringkas maot teu geuring heula
Tapi aki-aki pikun hirup nepi ka kiwari
Mindeng nonoman keur tandang isukna ngababatang
Teu nyaho ditinun boèh eukeurna
Mindeng nu keur olèng pangantèn
Teu nyaho papatèn datang pinastèn

Atawa nyelapkeun dongèng nu pikalucueun dibarung ku ngabojèg, ger atuh santri tèh sareuuri jauh pitunduheun, teu karasa waktu Asar geus nyantek, mun teu kitu sakalian ngaijazahkeun do’a-do’a nu dikawiridkeun sapopoe, mana keur santri nu milu balagan bulan puasa mah sok aya onjoyna, cara harita hanca ajian geus leuwih tengahna, ka tamat ukur popoèan deui.  Geus nincak tanggal lima welas peutingna tarawèh dipugkas ku witir bari kunut.  Biasana sok nyutat tina Qur’an nu pihartieunana kieu:”Mantenna mah moal katingali ku sagala panènjo panon, sedengkeun Mantenna nu tiasa nyusul sagala paninggal, da Mantenna mah Nu Maha Lemes tur Maha Waspada”.
Alèp sanajan santri pangbudakna, tapi tara tinggaleun ngaji pipilueun jeung nu jalebrog, ceuk ingetanana seja ngabaktikeun diri , keun baè teu kaharti sawarèh ogè, sugan meunang ganjaran tina ririunganana, dina majelis èlmu.  Ngan aya nu jadi  pikiran do’a nu diwejangkeun tadi ku ajengan, mun teu salah dèngè,”.... mun ieu do’a diwiridkeun terus, moal katingali ku musuh, sok komo lamun bisa disaambekankeun macana dina sakitu balikan tangtu bakal meunang kaajaiban keur diri nu macana...”
Geus tilu poè ti harita manèhna muhit èta ajian, cul kana nanaon poho di tajil poho di sahur, terus ngadukduk panasaran hayang cacap nepi ka martabat tamat dina saambekan, malah ngahaja ngèlat manèh kawas titiran nyieun gayoran luhureun salon pangsarèan nu baku da sieun kaganggu.  Sapoè sapeuting beuteungna teu kararaban dahareun, ari lain cai mah sakadar ngabatalan. Sangu jeung opieun panganteuran Mamat alona diawurkeun ka balong jadi parab lauk, kencling ka tampian rèk ngadon ngusey nyoo caik, ngadak-ngadak jadi  was-was, hatèna diobeda ku rupa-rupa sawangan, mung seg manèhna kataèkan ajianana, bong budak bolostrong ingetanana. Teu tatanya heula ka guruna kapan ari sabangsa wirid nu kitu mah teu sabrongbrong tiap jalma bisa  ngawiridikeun, matak sok loba jalma ngagerebeg weureu “Saèpi” alatan henteu tinemu sarat.
Peuting èta manèhna teu tarawèh di masigit ngadon mulang ka lemburna di Sukamaju.   Lalakon aya sapuluh kilometerna.  Badarat mapay jalan satapak.  Sajajalan teu balem biwirna terus ngagerenyem macakeun ayat, lain babasan taya rènghap nu kaliwat taya kiceup nu kapiceun, hatèna gilig hayang bisa ngaleungit , lantaran ceuk pamadeganana kapan “Man jadda jiddan pawajadahu” hartiya sasal keyeng tangtu pareng, asal temen tinemenan.  Naha bener manèhna kataèkan bisa ngaleungit teu katenjo ku jelema? Wallohu Alam, ngan baè waktu manèhna sababaraha kali uluk salam kanu jadi kolotna ti jero imah, teu aya nu nembalan, geblus manehna asup ka imah bari teu puguh ti mana jalanna, sabab geus nyampak di tengah imah. Panto parageuh ku tulak bapana jeung indungna keur solat tarawèh.
Di pawon nu dibakukeun jadi musola da masigit can bisa dipakè, rangkay kènèh. Lila manèhna ngadagoan nu tarawèh, rurat reret ka kamar, adi-adina geus sararè.  Bèrès kolotna tarawèh solongkrong manèhna sasalaman ka kolotna, tapi kolotna harè-harè henteu malirè kalah goloyoh ka tengah imah, kolotna duaan guntreng ngupat manèhna, “Naha si Alèp geus lila teu aya mulang ka lembur, èta meureun pedah kahayangna diogogan, hayang pantalon bapana, èta nènjo batur meureun,” ceuk indungna bari ngarongkong kana bekong dieusi cikopi, regot nginum disusul ku bubuy hui boled.
“Heueuh! Lain teu rek dicumponan ngan jual-jaar can aya nu laku, mana kuriak masigit ngambay tacan rèngsè,” tèmbal bapana bari nyerebungkeun haseup rokona kaluhur.  Naon nu diobrolkuen ku kolotna katarima asa mukpruk ka manèhna.


“Ah mending nyingkah baè ari kolot geus apilain mah.”  Kolesed ngadeukeutan panto rèk kaluar, jleg geus aya  di rangkay masigit, papan nu naranggeuh ku manèhna digolèrkeun dipake tilam.  Inget can solat Isa sakalian tarawèh, tamat do’a witir gerenyem deui manèhna nuluykeun hanca wiridan bari nyangkèrè kana kusen rada ngalenyap.  Barang beunta tanggah ka langit bulan geus luhur, hiliwir angin peuting tanda waktu geus ngagayuh ka janari. Karasa jasadna asa diawang-awang, jiwa kaluar tina kurungan, waruga karasa ngaleutikan tina wujud diri. Rot-rot kawas balon nu ngempesan. Antukna tinggal “Nuktoh” titik hideung. Malah nepi ka musnana pisan, nu tinggal paninggal ati, dunya anu sakitu lega ambahanana, kiwari aya dina cakreman teu aya bedana jeung nyanghareupan kobokan nyaho ka eusi-eusina. (HANCA)

Monday, August 17, 2015

Bagian Katujuh

Dedemi Pamit
Ku: HASBA



Taya lian éta ogé hasilna paneda kuring ka Anu Agung. Kuring hayang ngusir éta Nyi Putri Jin, tapi ulah siga-siga pangusir ti kuring. sing nyingkah ku karepna, ku kahayangna sorangan.  Éta ogé diijabah ku Pangéran, tétéla ku suratna tadi, manéhna téh pamitan.  Éta anu geulis bari némbongkeun haténa pinuh jeung gedé duriat kacinta asmarana.  Sanggeus dicorétan anu kasarna pisan basana téh kieu:   

"Habibi jungjunan ati.  Sateuacanna. Ana neda dihampura ulah jadi kekeling panggalih.  Kitu cénah pokna téh.  Pangna ayeuna nyeratan deui lain ku nanaon tapi rék unjukan.  Ti saméméhna mugi keresa ngahapunten. Ana téh dina akhir-akhir ieu bet hayang nyelang heula mulih ka Habsy, geus sono ka kolot anu ngarep-ngarep supaya mulih heula.  Ana téh betah didieu, kulobana ahli ibadah ka Pangéran jeung aya... kabeurat ati.  Keukeuh mibeurat micinta anjeun,  Ana rék nékad dék sabar, teu weléh nganti-nganti.  Sanajan cék putri ti Habsyi Ana téh cau ambon dikorangan, malati ka pipir-pipir gé teu éra teu sing, da kumaha atuh ari haté sanubari geus kataji? Najan anjeun can aya tanda-tanda miwelas asih ka Ana, Ana tetep dina pamadegan ati, sugan jeung suga teu ayeuna atuh jaga bakal laksana. Bakal ditampa jeung dipiwelas, nepi ka bisa kumawula saperti hiji garwa (habibah) nu satia.  Bari ngadago saat-saat anu baris ngamulyakeun haté, ayeuna pamit heula rék lolongok ka Habsyu.  Lain pamit pikeun salamina.  Kalawan putih beresih dina haté.  Duh, habibi buah haté, muga ka Ana ulah aya geuneuk maleukmeuk tur ngaridoan mios heula ti dieu.  Sapanjang Ana euweuh, sapanjang pajauh tina soca.  Keukeuh haté mah sapanjang pajauh tina soca.  Keukeuh haté mah bakal padeukeut jeung cumantél baé.  Asa nyéngcélak baé Habibi téh dina hihideung panon.  kababawa ka Habsy. dido'akeun sing damang ulah aya nanaon dina sajero paturay. dido'akeun sing geura jarah ka Mekah, mudah-mudahan urang bisa patepung sono di diditu. sajba ti éta dipénta kalawan sanget ikhlasna manah jungjunan, kana sagala anu ku S.K. geus dicokot saperti: duit jeung barang-barang kitu deui sagala anu ruksak-ruksak, nu peupeus kadupak kasénggol lain dihaja, ku réncang panakawan Ana.  Ngahampura laku lampah sakabéhna nu  matak ngaganggu.

Duit anu diockotan tina céngcéléngan lain pikeun kapereluan nanaon, tapi diamalkeun da Habibi mah geus nisab. dipaké nyumbang jeung kiparat. Lolobana ka anu kalantar di nagara Tartar, ka dulur-dulur urang kénéh anu sami-sami ngedalkeun dua kalimah sahadat. Saenyana mahluk di dunya anu sarupa pada teguh kana agama Islam bari ariman kana ucap Lailahailallah Muhammadarasulullah éta téh dulur urang.
Ngan cindung jaojah rék dipaké jeung disimpen-simpen salawasna keur tanda mata sangkan teu pareum katineung ati. Pileuleuyan heula Habibi jungjunan.... Sapu nyéré pegat simpay, paturay patepang deui.... Pileuleuyan jeujeur useup buat ati, kerenyed pakait ati.... S.K."

Kitu tah pondokna anu meunang nyorétan cawokahna téh surat ti Nyi Siti Kolbuniyyah anu panungtungan.  matak seuri teh ku  maké pok ménta supaya kuring ngarioan manéhna indit. Puguh meunang muntang-muntang  ka Anu Kawasa supaya geura sina mantog ulah karasa diusir.  Lamun rék panjang nétélakeun sakur sura-suratna dina satengahing gegedéna ombak asmarana anu loba pikaseurieunana mah.  Abong kéna ti jurig anu béda rasa atawa kabiasaan jeung manusa. Di urang aya babasan dina ngagambarkeun kageulisan wanita sajaba ti anu katulis tiheula, aya anu kieu: Buuk galing, poni rintit, atawa galing muntang ombak bakung hidéung lestreng hérang bangbara, ngadéngé manusa sok nataan kaalusan buuk jeung bulu panon, samarukna ari kecap: Siga anu ngélék hayam hideung, bulu kélék dilélépé téh alus. Kitu deui anggapanana kana bulu irung anu papasangan, norongtot kénca katuhu siga bangbara ngaliang dina ngagambarkeun awakna pribadi éta Nyi Situ Kolbuniyah téh hayoh ku babasaaan anu di urang mah puguh-puguh keur pamoyok. Samruk alus téa, bet dipaké gagambaran kayaan manéhna. 

Aya kecap kieu geura: Habibi moal teu panuju ka Ana. Ana téh putri geulis ti Habsyi ratuna anu ayu lucu anu kakoncara béntangna putri Habsyi. Bulu kélékna lépéun kénéh. Ari urang oléng pangantén hayang téh bulu kélékna géus dilélépé heug ku Habibi ratuning kalbu.  Tingali buktina bulu irung Ana nu narongtot ramosbos papasangan siga bangbara kembar ngaliang, sarua panjangna. Tuluy nataan sakur bulu-buluna tug tepi ka anu (punten teu beunang katénjo ku anu lian téa) matak seuri jeung sebel.  Heuleut dua poé ti tas narima pamitan ti Kérésék, babakuna anu tonggoheun lembur da pasantrén Kérésék téh di logok ayana. Cénah ti imahkuring aya iring-iringan ngaleut ngabandaleut. Dipirig ku musik jeung drum band anu saragam pakéna. Dibaraju kulit himak dibalakutak bulu kaldé atawa biga, dibaju kulit maung tutul jeung loréng. dibalakutak hulu singa. tingkélébét bandérana, tingpelengkung umbul-umbulna, gotongan sababaraha dongdang ngiringkeun jampana anu pangheulana meunang ngahias lir aya pangantén anu diarak-arak.  Jelema sakur anu ningal kana éta kajadian pada mangloh ka kuring. Nganaha-naha cénah boga hajat jeung raraméan sakitu rongkahna teu ondang-ondang. Teu ngabéjaan-ngabéjaan acan? Kruing rungah ringeuh bengong da teu rumasa tas hajat. Sumawonna jeung iring-iringan sagala maén musik nanaon, asa bararaid teuing, keur dina kasusah téh jeung pésta sagala. Teu inget yén poé éta téh kuring maca surat pamitanana Nyi Siti Kolbuniyyah.  Pantes atuh ari putri mah diarak-arak gé ku rahayatna meureun, anu milu ngaganggu ka kuring téa, atawa nu ngahaja mapagkeun ti nagrina.

Heuleut saminggu kuring manggih deui kareuwas sababa dina paimbaran masjid manggih surat. Najan alus tulisna tapi tétéla ti Nyi Siti Kolbuniyyah, malah anéh bérés pisan dadianana gé kawas-kawas enya geus tabah atawa meunang tatanya heula geura kieu cénah:

KINANTI

Ya Allah ya Robbul Gafur
anu sipat Rahma Rahim 
anu asih ka hambana
sumangga abdi tingali 
hamba Gusti nu sangsara
nu di kubur ku prihatin

Nyeri nyerep kana sungsum
sumarambah kana geutih
awak asa disasaak
ati asa tingsalewir
urat asa pararegat
nyeri saliring jasmani

Keur lulus dipegat umur 
keur asih disilih pati
keur suka dipegat nyawa
salaki ngemasi pati
dék seca teu ditarima
dék ngabdi teu diperduli

Aduh pileuleuyan umur
mo lami di alam multi
mo lami di alam dunya
teu kuat bahan kanyeri
raga dikubur tunggara
diri dipirig kanyeri

Duh panon poé nu ngagempur
Duh bulan anu dumeling
Cik ieu Kuring tulungan
Ulah  nyeri-nyeri teuing
Suga anjeun diijabah
Da anjeun mah mah mahluk suci

Pangnedakeun ka Yang Agung
sapaatna diri kuring
muga aya kakiatan
ulah kieu-kieu teuing
aduh Gustu henteu kiat
Peurih nyeri ngajaletit

Hé manusa nu adigung
nu telenges ieu aing 
nu ikhlas taya ras-rasan
henteu nolih kanu peurih
teu ngarampa kan arasa
abong-abong eukeur mukti

Embung ngarérét sarambut
embung nolih kanu sedih
Urut indit babarengan
ari balik ngaglincing
salalki dibégal nyawa
dipaké ganti teu nampi

Kaula amit dék mundur
bari mawa ati nyeri
mawa gambar dina rasari
nu matri di sanubari
anu atra dina dada
nu mo bisa leungit deui

Rap ku lemah rup padung
moal puih nya kapeurih
duh manusa kaniaya
abong-abong kanu laip
teu aya pisan rasrasan
téga téh kacida teuing

SINOM

Pileuleuyan Pulo Jawa
Mo bisa papanggih deui
Ieu kula nu sangsara
Balik bari ceurik getih
Do'akeun masing tigin
Sing sumerah ka Yang Agung
Pileuleuyan Ajengan
Gambar anjeun dina Ati
Dék dipaké jimat tepi ka Kiamat

                                     Siti Kolbuniyyah

Ti wates harita Pasantrén Kérésék, Alhamdulillah aman teu aya naon-naon deui deui. Tapi dina taun 1963 aya deui kajadian anu matak hélok jeung ngageunjleungkeun, nyaéta ku leungitna hiji budak, lilana tepi ka tilu bulan. Geus tilu bulan éta budak datang. Balik deui sorangan. dongéngna aranéh pisan sabab tas nyaba ti Nagara Habsyi.  Nagara Jin, Insya Allah upami aya nu papay uninga kana dongéng éta budak.  Mangga engkin diaos: DIIWAT DEDEMIT.

Hapunten (T.A.M.A.T)


Monday, August 10, 2015

Bagian Kagenep

Diajak Kawin ku Jin
Ku: Hasba


Geus dicaritakeun yèn kuring mèh-mèhan apes atawa pondok umur, apes ku kajadian hambatan bedogna jin anu geus kacarita ti heula. Gangguan sèjèn-sèjènna loba deui, da matak bosen anu macana mun ditulis kabèh tèh.  Saperti anu ditaranjangan keur sare tengah peuting, ogè ti beurang, anu direbut simbutna nyaho-nyaho  mun sarè tèh geus buligir katirisan, ari simbutna kakalayangan di luhur bajuna anu dipakè, sarta leungeunna anu  makèna sina aya dijeroeun leungeun baju.  Anu dikadutan tuluy dikaput siga ngadutan bèas.  Anu dibebetot tasbèna ari keur salat, anu digulingkeun ari keur sujud, atawa dibatek samak pangsujudannana.  Aya anu can dicaritakeun tèh èta lobana surat - surat  ti Nyi Siti Kolbuniyah ka kuring, surat-surat naon? Saur paramitra tèh naon tulisanana? Kumaha aksarana? Bahasa naon? Da èta Nyi Siti Kolbuniyah tèh urang Habsyi.

Nyeratna tèh  makè patlot beureum cara patlot budak sakola (beureum/biru-biru).  Mimitina mah ari nulis tèh duka aksara naon, Arab lain, naon boa lain.  Duka mun  aksara Habsyi  mah da curat-corèt pisan keur baradag tèh . Ngan kataksir wèh meureun èta tèh surat.  Neundeun èta anu disangka-sangka surat tèh sok angger dina handapeun bantal paranti sarè kuring atawa dina sarung bantal diseumat ku jarum.  Tèmpo-tèmpo sarung bantalna pisan anu ditulisan tèh ku manèhna munggah kotor pisan.  Sakur-sakur tulisan da teu beunang dibaca tèa. Saenyana gè didurukan baè.  Ngarasa hanjakal ayeun amah kuring tèh.  Padahal mun èta tulisan disimpen alus mun keur dokumentasi lantaran anèh.  Malah kulantaran suratna sok baè didurukan tèa nya jadina sok nulisan sarung-sarung bantal, meureun supaya ulah diduruk atawa sangkan dibaca.  Kuring lain nyaho yèn èta surat ngan panyangka wungkul.  Èta tulisan manèhna tèh meureueun minangka (boa) rèk ngajak sawala atawa aya perlu dikanyahokeun ku kuring mana hayoh baè curat-corèt ogè.  Walhasil ngajak korèspondènsi antara manèhna jeung manusa.  Gutrut baè kuring nuils babalagonjangan, sok ditunda dina luhur bantal anu unina,  “Mun tulisan manèh anu ku kami didurukan maksudna nyuratan ka kami, kami mènta supaya manèhn ulis ku aksara latèn atawa aksara anu bisa dibaca ku kami, manusa.  Sarta basana kudu basa Sunda da kamai  mah manusa Sunda!"  Na  mani ngan sakiceup. Brèh tèh aya walonan dina aksara latèn jeung ku basa Sunda.  Tapi ampun basana tèh ku kasar jeung cawokah pisan. Malah-malah jorang pisan kalilanakeun mah.  Ku geus ngarasa conggah tèa meureun.  Keun engkè kumaha èta eusina surat-surat tèh.  Ayeuna ditunda heula.  Urang nyaritakeun tarèkah kuring pikeun ngusir manèhna.

Surat dina koropak  atawa minangka brievenbusna Nyai Siti Kolbuniyah tèh handapeun bantal pangsarèan kuring gè diantep heula mani geus ngahunyud aya sababaraha cewir.  Kuring teu welèh tawekal ka Pangèran tina hayang nalukeun èta jin sina nyingkah.  Babakuna taluk gè ari teu nyingkah mah barabè kènèh baè.  Nilik kana heureuyna tara sok jeung kira-kira tèa.  Kuring mèh bèak tarèkah mèh putus pangharepan tina bandelna èta jin.  Ku pinterna ngungkulan dukun, ngèlèhkeun ahli parancah.  Kiyai jeung paraji katitih taya nu mahi.  Taya deui, ceuk kuring dina ati sanubari, nu enya-enya kudu dipuntangan tèh iwal ti Gusti Nu Maha Suci.  Sarta kuring pribadi nèkad rèk toh-tohan kalawan moal ngahiras deui kanu sejen. Lain teu percaya deui ka batur, lain teu aya deui anu haat, lain kurang-kurang anu milu narèkahan.

Sangkan nyingkah èta sètan ti imah kuring.  Tapi kuring teh geus isin deui ku nu arasih, kunu ngilu prihatin ka kuring.  Anu hèsè tèa ngabalesna kana budi anu sakitu ikhlasna.  Tawwakaltu alallah ceuk dina hatè.  Dek baè kuring bari maca lahaola walakuwata muntang kanu Kawasa. Neda berkahna Mama, tina geus lobana tanaga anu mubadir tanda acan aya nu ngajodo.  Kaharti ku kuring ge bakuna mah can dipaparin pareng ti Gusti pangna kitu gè.  Kuring teu nambakeun deui hal èta, sabab kalah ka sok beuki kanceuh baè ku jalan kitu tèh.  Tèkad kuring tadi saenyana mah dibarengan ku kanyataan yèn dimana-mana kuring ikhtiar makè jalan anu sèjèn.  Si jin teh kawas anu  ngambeu, sok tuluy baè awuntah jeung motah deui.  

Nyatana kieu. Kuring samèmèh ngalakonan tirakat sorangangan alias niat berdikari tèa, geus ngumaha ka salah sahiji Saèhu anu luhur. Saur anjeunna: Tulis wae anu, do’a anu, dina bata atah hartina beuleumeun kènèh.  Hèsè-hèsè gè, jauh-jauh gè ku kuring diikhiataran nepi ka meunangna ti lio kentèng Cirapuhan Limbangan. Èta bata dipupusti pisan diteundeunna ogè dina lomari malah jeptrèt baè dikonci da bisi dioprèk budak.  Niat tèh rèk ditulis peuting-peuting ari geus rèngsè ngarah tumaninah. Tapi naha ari sareupna, wanci barudak ngarampih geus deukeut ka magrib, ana beledug tèh sada aya anu bitu dihareupeun imah mani ngajelegur dèdèngèan tèh.  Imah kuring kuat ngariyeg siga anu ku lini gedè tingarèket lampu-lampu mani tinggulayun tanda-tanda imah inggeung nu pohara tarikna.  Kuring geuwat nempo ti tepas hareup ka luar, da sadana anu ngajelegur tèh di hareupeun imah. Sihrorèng teu pira diurut anu  ngajelegur tèh bet aya bata atah anu geus bubuk (ancur) pisan.  Patulayah bubukna tèh  na buruan tangngtu lantaran dibeubeutkeun. Bata ti mana, jeung saha anu ngabantingkeunanan mani matak  eundeur ka imah sarta sorana ngajelegur siga bom baè? Kurin geuwat muka lomari nèang bata sisimpenan tèa.  Tètèla geus ewueuh bata anu tadi rèk ditulisan tèh.  Na kamana jeung ku saha apan dikonci?  Ditilikan dina urutna bet aya kertas sacewir anu ditandaan paraf S.K. Geus teu sak deui tangtu si bata tèh dipaling dipiheulaan ku èta jin.  

Aèh enya aya nu kaliwat saeutik nyaèta rèhna kuring mindeng pisan kaleungitan. Boh barang boh pakèan sumawonna duit mah.  Lamun èta anu leungit dina urutna aya paraf  S.K. mo ku saha deui tangtunan ogè dicokotan ku manèhna jeung tara tèa balik deui (kapanggih deui) ceuk kuring dipaling da nyokotna kalawan teu bèbèja heula jeung rido baè kuringna oge.  Jaba ti diganggu diheureuyan, disingsieunan jeung imah dirurujit tèh, dipaokan sagala kuring tèh. Taya barang anu aman dina naon baè nyimpenna barang masing di anu buni disumput-sumput ari geus kuduna dicokot  ku èta jin nyaho-nyaho geus musna. Sakadar digantian ku kertas anu aya. 

Tah didinya ti tas ditunda bata bitu tèh basana da ngabeledug tèa, kuring jadi leuwih-leuwih ngalakonan kuru cileuh kantèl peujit.  Dimiitian ku jarah ka makam Mama.  Kuring geus nèkad pisan, jeung jadi teu sieun sama sakali kupanggodana tèh.  Petana naon ogè ku kuring dianggap sepi.  Kuring seja konfrontasi dèk ngalawan tapi nyorangan tanpa ngajak batur. Cèk hatè piraku itu kitu tèh euweuh enggeusna! Hatè kuring beuki gedè sabab yakin sakutr anu aya dimiiminta tangtu aya tungtungna.  Kabèh euweuh anu abadi iwal ti Pangèran anu teu keuna ku euweuh teu keuna ku aya anggeusna tèh.  Ku tèkad kuring kitu nyaèta ku peta kuring anu jadi ka manèhna, dikajeunkeun tèa, aya ogè parobahan-parobahan anu nyata. Aya beurit najan nyulusup kana pojok pingping jeroeun calana, gètèk-gètèk gè tara dirasa. Aya kalèci gogororolongan di tengah imah sumawoona ku kuring ku anak-anak kuring gè Hasan nu harita cageur jeung Husèn, kitu deui ku ka batur-batur saimah, tara dipirosèa, aya leungeun ramosbos buluna, ranggoas kukuna siga-siga rèk ngaranggeum boh ka tamu boh ka kuring najan dina hatè inggis gila kaluarna mah  maksakeun baè seuseurian (nyeungseurikeun.  Nyandiwara wèh ku peta-peta siga anu bungah, siga aya tongtonan anu diarep-arep siga-siga atoh malah mah ari digoda tèh.  

Ku taktik konfronatasi kitu tèh anu karèk kapanggih sanggeus mèh aya lima taunna, alus pisan hasilna.  Horèng lain ku kudu ngadu èlmu atawa ngadu pakarang  geuningan kudu teu dipalire ku ieu dipikasieun.  Lamun aya tarèkah-tarèkah anu karasana ku jin yèn kuring arèk ngusir atawa ngaduan, lain sieuneun, lain nyingkah malah malah ngalawan motah pisan.  Tapi ku diboikot  cohagna mah dikumaha karepkeun manehna tetela jadi teu sumanget ngaheureuyan deui. Bosen meureun.  Mun ka anu wujud mah  meureun cara ka jelema kudu dibudian atawa ku teu dicarèk, teu ditakon, ku diantep kumaha karepna.  Lain ku omongan kasat tapi ku teu diperduli deui saperti anu geus teu daèk ngaku.   Ku jalan kitu manèhna boga rasa kaditu aya nu meuli deui atawa teu dibeulian deui ku kuring. Manèhna ngasaa taak rupana ku kuirng jeung ku saeusina pasantrèn.   Barudak gè kabeneran sabilulungan nurut kana akal tarèkah kuring yèn ulah sieun-sieun deui ku èta jin arina nyingsieunan.  Maranèhna gè yakin da cènah sok jadi èraeun si jin tèh.  Samarukna dipikaresep ku urang manusa ari urang sieun ku panggodana tèh.  Teu mangkuk sabaraha lililan enya baè loba tanda-tanda yèn manèhna ngarasaeun teu aya nu malirè deui jadi èra sorangan, meureun.  Surat-surat ti manèhna ku kuring dibaca sih dibaca tara diwalonan jeung terus baè didurukan . Tina hal ngadurukan èta surat-surat sakali deui kuring ngarasa hanjakal ku euweuh pisan ayeuna buktina pikeun kenang-kenangan (tembongkeuneun ka anu paralay ningali). Boh di hurang boh dikeuyeup. Boh di urang boh dideungeun. Boh manusa boh jurig, sihoreng ari dibaèkeun tèh jadi matak teu betah. Ari surat-surat teu diwalonan tèh boh di sobat-sumawona ti bèbènè atawa ti beubeureuh geuning sok ngajadikeun renggang. Tungtungna pegat tatali ati.  Euleup-euleup ngurangan katineung hatè anu ngadeukeutan paturay. Teu silih suratan deui jeung saterusna tèa. Peun.

Kacarita beuki lila tèh beuki nyayeud baè suratna Nyi Siti Kolbuniyah mun teu hantem didurukan mah, teu kaliwat kabèh gè dibacaan mah bisi ayua  anu penting-penting atawa pibahayaeun.  Hatè kuring geus ngabatu teuasna ku kapercayaan bakal ayana pitulung ti Anu Ngayuga. Beuki teuas atawa beuki kandel iman kuring ka Pangèran beuki ngancreug sigana tèh kadudukan Siti Kolbuniyah ayana di pasantrèn. Tina anu sakitu lobanan surat-surat ti manèhna mèh kabèh eusina cawokah jeung jalingkak.  Kasarna matak èra parada nu  maca.  Komo pikeun kuring mah anu tara tèa mirajeunan jorang, kecap-kecap anu ditulis ku jin matak muringkak bulu punduk, matak èra parada nu maca. Matak muringkak bulu punduk, matak sebel hayang utah.  Da kumaha atuh jorangnan Audzubillah min dzalik. Makè jeung nyaho (bisa) kana sisindiran saperti : ècèng gondok dina panto, toroktok olè-olèan sagala, anu ditulis sakumplitna jeung eusina anu kieu: Hayang jeung nu donto, nu montok hayang kurupuk.  Sihorèng pangna nyieun surat muat rupa-rupa sèsèbrèd tèh manèhna naèk kana romantis, hudang birahina ku ngarasa kasepian lantaran lila teuing rarandaan ceuk cohagna mah. Malah tungtungna mah ana jol tèh aya surat anu tètèla pisan manèhna wakca balaka tiheula yèn bogoh ka kuring jeung terus ngajakan kawin.  Suratna nu nètèlakeun asmarana ka kuring didituna mah dirèka-rèka ku basa bujangga.  Basa pangoloan basa pangamat ati, anu sakitu matak nyèrèsèt kana hatè.  Supaya kuring kapincut meureun tapi da puguh ti jurig basana bujangga jurig. Ngolona gè kawas ka jurig deui, nyebutna kakuring teu asa-asa nyebut habibi, ustad sawarèh mah.Berkah ka kuring mah basana tèh anggur matak olab, batan kapincut mah.  Da kumaha atuh cawokahna leuwih-leuwih ti pirujiteun. Ditataan èta sagala rupa bagian badanna tèh. Diterangkeun kumaha bangunna hiji-hijina anggota badan manèhna.  Kapanjan-panjang buukna jèung naon sakur anu aya dina bagian awakna baè. Mun di urang anu ditataan tèh paling-paling centikna bulu panon, ngajepatna halis ngajelèr paèh.  Dina kabujanggaan kasusasteraan jurig mah horèng anu rujitna anu teu katembong atawa dibungkus-bungkus dihalangan ku pakè anu dibuni-buni tèa anu ditatan tèh.  Pokna tèh: Bisi-bisi habibi panasaran kanu katutup ku erok ti ayeuna gè èta tèh haturan sakabèhna. Ku Ana diterangkeun ti heula dina ieu surat. Bari pok deui ngageuwat-geuwat hayu urang kawin cènah.

Lain matak kukurayeun tah ari kitu? Ditambah deui ku basana tèa. Tayoh ka patutna abong-abong jurig. Pikeun mondokeun lalakon eta surat anu kitu, gancang diwalonan ditampik sapajodogan ku kuring.  Ceuk kuring (kalawan teu diplomatik deui) “Teu sudi teuing aing kasi sia, ka jurig di bangsa aing gè loba kènèh piliheun!” Ari èta surat anu  kitu eusina les leungit tina tempatna, tètèla yèn geus dicokot kuring ngarasa rada reuwas, kaduhung jeung rada salempang ogè. Tètèla ku nafsu atawa tacan bisa nahan amarah kalawan sampurna. Can bisa diplomatik wèh teu megung napsu. Naon pangna kuring kitu jeung rada kaduhung? Kaduhung nulis surat rusuh teuing.  Naha ngabuktikeun yèn kuring teu sudi tèh teu bisa mun ku basa (omongan) nu teu garihal? Deuh palangsian ambekkeun? Ambek ku dua ku tilu.  Hiji ku ditampik, dua ku kakasaran.  Kuring inget kana karangan ka pernah sepuh kuring sorangan nyaèta kana wawacan Purnama Alam waktu Puprnama Alam dipiokahayang ku Rohong Guring nu teu kauntun tipung.  Ku nampikna ditenung Purnama Alam tèh ngajadi batu di jero guhana si Bungbungsumur.  Palangsiang kuring gè cek ati kecil kuring bakal ngarandapan kitu.  Salamet ieu keuna ku bedogna hayoh jadi malaweung meureun atawa ngabatu tèa da ditenung jin. Teu mustahil Nyi Siti Kolbuniyah kabisana nepi ka dinya watawa jahatna nepi ka itu manèhnah nepi ka nèkad nurutkeun sakumaha susumbarna barèto tèa. Salat tahajud kuring beuki digetolan.  Nyekar ka Mama beuki mindeng ku ayana kahariwang jeung kasieun anyar dina  hatè kuring nu taya  tangan pangawasa dibèrèan teu poho kana pasrah ka Pangèran kana kumaha pangersana. Kuring maca istigfar sababaraha kali iman kuring balik deui malah leuwih kandel ka Mantenna.  Percaya yèn Pangèran moal samata-mata ngahukum ari lain hukumeun Anjeunna yèn kudu kitu.

Barang kuring istigfar tanda èling deui tina pikir bieu anu tètèla kawas anu sasar, kuring nganaha-naha kana diri kuring, maido ka sorangan.  Naha makè balik deui kana rasa sieun? Kapan mun nyaho yèn kuring sieun tangtu manèhna wanieun deui. “Tong Sieun kunu kitu, tuh sieun mah ku Pangèran!” Cèk hatè kuring baka ku sanget muntang bari tobat ka Anjeunna, nyuhunkeun dihapunten sareng diraksa, nyuhunkeun dipapaparin sareng dituduhkeun kana jalan anu lempeng.  Mugi mugi dipaparin nikmat ku Anjeunna ulah dugi ka nemahan jalan anu mawa sasar sareng ulah digolongkeun ka jalma anu dibenduan ku Gusti.  Kuring sadar kuring gedè hatè deui. Aneh.... tetela anèh!   Gusti nu Maha Welas Asih. Anjeunna ngadangu kana jeritan kruiing saharita kènèh aya bukti anu matak tiis kana hatè.  Bluk kuring sujud nganuhunkeun, cengkat-cengkat tina munjat tèh rèk reureuh heula ku ayana kapereluan sèjèn.  Naon anu nètèlakeun tadi ka kuring tèh? Nyaèta ana pluk tèh aya surat, lain digolerkeun heula dina tempat nu cara nusasarina, ieu mah bet siga-siga dianteurkeun ku Nyi Siti Kolbuniyah tèh. Èta surat naon eusina? Kuring ketir dada hatè tèh dina rèk macana.  Dibèrèan kènèh bari jeung ngarempod saeutik.  Maklum hawa-hawa watek sok ngadarègdèg awahing ku hayang geura nyaho eusina jeung hariwsang ku sangkaan palangsiang!

Pangalama kuring baheula teu robah. Teu acan leungit-leungit adat kitu tèh ti barang kuring mimiti nampa surat ti indungna Hasan-Husèn jaman manèhna jadi kikindeuan kènèh alias bèbènè lindeuk. Lain  heureuy mani ngadarègdèg tèa macana tèh.  Èta mah bahèula dasarna dibarèngan ku rasa cinta, ari ayèuna mah dasarna dibarèngan ku rasa hariwang. Panglasiang! Ima hadè  ima gorèng eusina kudu baè datang èta watek ngadarègdèg tèh. Alhamdulillah ari barabat tèh dibaca kumaha cènah cek Nyi Siti Kolbuniyah tèh.  Pondokna kieu:” Ustad ulah bendu ka Ana, nepi ka Anda ditundung didieu. Ana tèh betah didieu. Hayang ulah dibenduan! Jeung kumaha atuda Ana tèh resep pisan ka Ustad kusumujudna ka Pangeran jeung ka Abuka. Ti ayeuna Ana janji moal deui ngoconan-ngoconan ka Ustad asal ulah ditundung ti dieu!”

Plong tèh kuring mani asa ngabulungbung, bungangang tuluy nganuhunkeun kana pitulung Anjeunna, da upama ku anjeunna teu digilekeun mah hatèna Nyi Siti Kolbuniyah kana solèh kitu, moal kitu nyuratanana. Tambah-tambah bedang meureun. Sanggeus nampa surat kitu, enya jempe dina sawatara waktu mah, kitu sotèh ka imah ari ka Pondok, ka Masjid mah aya kènèh baè heureuyna tèh.  Abong bakatna tèa cunihin.  Tètela yèn salungguhna jin sarua jeung sabangor-bangorna manusa.  Koropak surat ti manèhna kosong-kosong baè, alias handapeun bantal tara aya deui tetendeunannana. Dina hiji poè heuleut sawatara waktu, gorèhèl tèh bet ayadeui surat ti Nyi Putri Habsyi.  Kumaha eusina? (HANCA)